Batu Kalimaya, berharga dan istimewa sampai nyawa jadi taruhan

Penambang bahkan berada di dalam hutan selama berbulan-bulan, menggali terus menerus.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Batu Kalimaya, berharga dan istimewa sampai nyawa jadi taruhan
Penambang Kalimaya di Banten. ©2015 Merdeka.com/Dwi Prasetya

Makmun (55), seorang pemburu batu Kalimaya ditemukan tewas tertimpa batu di dalam lubang tambang, Senin (9/6). Butuh waktu berjam-jam untuk mengevakuasi jasad warga Kampung Kroya, Desa Mekarsari, Kecamatan Sajira Kabupaten Pandeglang dari kedalaman 18 meter ini.Perjuangan Makmun mencari batu kalimaya setidaknya mewakili potret nasib penambang serupa di wilayah Banten. Kecelakaan mencari batu istimewa selalu menghantui di dalam perut bumi.Kebanyakan, penambang batu kalimaya masih menggunakan cara tradisional. Ada yang masuk menggunakan bambu sebagai tangga. Sedangkan kondisi di dasar lubang bak jalan cacing yang bercabang, hanya disangga menggunakan balok-balok kayu.Koni, penambang di Desa Marga Sari, Kecamatan Sajira Kabupaten lebak, menceritakan pengalamannya berburu batu kalimaya. Dengan peralatan seadanya, dia membuat lubang sedalam 9 hingga 11 meter.Menurutnya, untuk mendapatkan batu kalimaya dengan kualitas bunga terbaik sangatlah sulit, dan tidak bisa diperkirakan untuk mendapatkannya."Sulit mendapatkannya, kadang di dalam berjam-jam hingga berbulan bulan belum tentu mendapatkan kalimaya," ujar Koni, Senin (2/3).

Bahkan selama masuk hutan berbulan-bulan, mereka pantang pulang. Setiap hari dihabiskan untuk menggali dan mencari batu mulia khas Banten tersebut. Urusan makan dan istirahat pun bergantian.Sementara itu, Yahya, pengusaha batu kalimaya asal Lebak mengungkapkan, batu berkilau sejuta warna hingga kini masih jadi primadona para kolektor dan warga biasa. Di banding dengan batu mulia lainnya, kalimaya memiliki daya tarik tersendiri.Keistimewaan batu kalimaya terdapat pada tingkat kesulitan mendapatkannya dan corak kembangan. Semakin beragam dan banyak coraknya, semakin meroket pula harganya."Kembangnya macam-macam. Ada beberapa jenis dan itu yang dapat menentukan keistimewaan kalimaya," kata Yahya saat ditemui di kediamannya di Desa Parungsari, Kecamatan Sajra, Lebak, Banten, Sabtu (28/2).Adapun jenis batu kalimaya yang dijual di pasaran terdiri dari opal hitam, kalimaya kristal, kalimaya susu, dan kalimaya teh. Masing-masing memiliki keistimewaan tersendiri.Keistimewaan corak kembang pada akhirnya menentukan banderol batu kalimaya. Semakin unik dan kaya warnanya, harga yang ditawarkan bisa mencapai jutaan rupiah.


Berdasarkan informasi yang dihimpun, batu kalimaya berasal dari daerah Banten. Kata kalimaya mengacu pada penyebutan masyarakat lokal. Kali berarti sungai, Maya merupakan nama lain Sungai Maja yang mengalir di Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak, Banten. Di pasar internasional, batu kalimaya disebut opal.Tetapi di balik pesonanya dan banyaknya peminat, terkadang pedagang mematok harga yang kelewat batas. Seperti pengalaman kolektor akik bernama Ajis. Dia pernah membeli batu kalimaya dengan harga mahal tetapi tidak sesuai dengan kondisi barang."Kalimaya harganya gila-gilaan, ceplak batok saja pedagang kasih harga walau kualitas batu kurang. Udah gitu banyak kalimaya asli batu tapi bukan asli Banten di pasaran beredar," kata Ajis saat berbincang dengan PulseFeed, Kamis (16/4).Begitu juga yang dirasakan Ari, seorang pecinta batu asal Lampung yang kerap berburu kalimaya di Banten. Dia mengaku pernah tertipu saat berburu kalimaya Banten di salah satu pusat penjualan batu di Kota Serang. Dirinya membeli sebuah batu opal hitam yang disebut-sebut oleh penjualnya merupakan batu kalimaya asal Lebak. Namun setelah dibeli dan terkena air, pancaran warna pada batu hilang seketika."kecewa banget sebenernya, tapi sebagai penggemar batu pantang menyerah. Kalau enggak ketipu enggak dapat ilmu," kata Ari.

Rekomendasi