Aksi Adnan Buyung yang bikin gerah semua presiden

Buyung dikenal sebagai sosok yang tak takut untuk mengritik penguasa, banyak presiden yang gerah terhadapnya.

Yulistyo Pratomo
Oleh Yulistyo Pratomo - Reporter
Aksi Adnan Buyung yang bikin gerah semua presiden
Adnan Buyung. ©2015 PulseFeed/dwi narwoko

Adnan Bahrum Nasution, atau biasa dikenal Adnan Buyung Nasution merupakan sosok idealis dan tak pernah ragu untuk membela rakyat kecil. Sikap inilah yang membuatnya dikenal oleh berbagai lapisan masyarakat.Kini, Buyung telah menghembuskan napas untuk terakhir kalinya. Advokat senior ini dinyatakan meninggal dunia di usianya yang ke-81.Meski telah menemui Sang Khalik, sepak terjang yang dilakukan Adnan semasa hidupnya selalu tersimpan dalam catatan sejarah. Dia menjadi sosok yang tak takut dihukum oleh presiden manapun, dan sangat rajin melontarkan berbagai macam kritik.Ya, meski berkarier di dunia hukum, Adnan juga peduli dengan perkembangan politik di tanah air. Jika ada yang dirasa negatif, dia tak segan untuk mengritik.Kata-kata yang dilontarkannya kerap membuat gerah presiden. Berikut aksi Buyung yang bikin gerah semua presiden:

Ikut demo di era Soekarno

Ikut demo di era Soekarno
Adnan Buyung. ©2012 Merdeka.com

Sejak kecil, Buyung telah menjadi sosok yang sangat idealis. Sikap tersebut diturunkan dari ayahnya yang juga mantan pejuang di era perang kemerdekaan. Bahkan, dia telah mulai berpolitik sejak duduk di bangku SMP.Setelah menyandang gelar sarjana hukumnya dari Universitas Indonesia, Buyung diterima bekerja sebagai jaksa di Kejaksaan Negeri Istimewa Jakarta sembari melanjutkan kuliahnya. Keterlibatannya di dunia politik dalam sebuah aksi demonstrasi membuat Buyung dimutasi ke Manado dan Medan.Saat itu, dia bersama sejumlah mahasiswa lainnya menentang pemerintahan Presiden Soekarno saat berlangsungnya peristiwa Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu). Aksi tersebut membuatnya dihukum karena dianggap menentang pemerintahan yang revolusioner.Buyung menganggap tindakan pembunuhan terhadap lima jenderal TNI telah mengangkangi Pancasila. Bersama mahasiswa lainnya, dia menuntut agar pemerintah segera membubarkan PKI hingga ke akar-akarnya.

Tuntut jenderal korup diadili

Tuntut jenderal korup diadili
Adnan Buyung. ©2015 PulseFeed/dwi narwoko

Tak hanya di era Soekarno, Buyung juga pernah dibenci Presiden Soeharto. Dalam bukunya berjudul 'Pergulatan Tiada Henti' terbitan Aksara Karunia, 2004, dia tak dianggap saat memaparkan rencana aksi anti- korupsi yang dibuatnya.Saat itu, Buyung ditemani Harjono Tjitrosoebeno, Erie Sudewo, Fuad Hassan, dan Reen Moeliono. Soeharto didampingi lima orang jenderal. Buyung menyerahkan dokumen tertulis, lalu menjelaskan maksud Buyung dan kawan-kawan yang ingin Orde Baru dibersihkan dari praktik korupsi. Dia meminta Soeharto menyeret petinggi militer yang diduga korupsi ke pengadilan."Seret jenderal-jenderal yang korup itu ke pengadilan!" ucapnya saat itu.Mendengar itu, tanpa banyak bicara, Soeharto langsung meninggalkan seluruh tamunya dan tak kembali lagi. Seketika, pertemuan langsung berakhir. Kemarahan Pak Harto baru diketahuinya saat membaca koran sore yang berjudul, 'kalau bukan Buyung sudah saya tempeleng'."Informasi koran dan juga informasi lain mengatakan Soeharto marah betul kepada saya," aku Buyung seperti tertuang dalam halaman 191 buku Pergulatan Tiada Henti.

Kritik menteri SBY di tengah rapat

Kritik menteri SBY di tengah rapat
Ganjar Pranowo bertemu Adnan Buyung, kuasa hukum PT Semen Indonesia. ©2014 Merdeka.com/Parwito

Idealismenya berlanjut ketika Susilo Bambang Yudhoyono menunjuknya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) periode 2007-2009. Dalam buku 'Nasihat untuk SBY', dia sempat menyindir sejumlah menterinya hanya nurut dan berlaga seperti 'yes man'.Tak hanya itu, Buyung juga mengaku mendapat kabar di zaman Presiden Soeharto pola rapat pun tak beda. Menurutnya, cara seperti itu justru tidak efektif karena para pembantu presiden tidak berani menyampaikan pendapat."Konyol kalian semua. Di dalam sidang kalian semua diam, tidak ada yang ngomong sepatah kata pun. Menjelaskan atau memberikan pendapat kepada presiden tentang sesuatu hal, tidak ada. Masa mau diteruskan cara-cara feodalistik macam begitu?" beber Buyung.Buyung menggambarkan sidang kabinet yang monoton dan hanya mendengarkan uraian. Menurutnya, tanpa ada satu pun yang berani bersuara, apalagi mengkritik rapat tak banyak memberikan manfaat.

Rekomendasi