Kisah Juki, lestarikan budaya lewat wayang kardus

Wayang kardus karya Juki patut diacungi jempol karena memiliki nilai seni yang tak kalah dari wayang kulit.

Nanda Farikh Ibrahim
Kisah Juki, lestarikan budaya lewat wayang kardus
Juki Santoso (kiri), pemuda Desa Jatikapur, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri, dikenal sebagai perajin wayang kardus. Kecintaannya terhadap cerita pewayangan membuat Juki menekuni profesi ini. ©2015 PulseFeed/istimewa
1 dari 5 halaman
Kisah Juki, lestarikan budaya lewat wayang kardus
Inspirasi Juki membuat kerajinan ini berawal dari keinginannya membeli wayang kulit. Namun, ketika itu harga wayang kulit terlalu mahal, akhirnya Juki membuat wayang sendiri dengan bahan seadanya. ©2015 PulseFeed/istimewa
2 dari 5 halaman
Kisah Juki, lestarikan budaya lewat wayang kardus
Meski begitu, wayang kardus karya Juki memiliki kualitas yang patut diacungi jempol. ©2015 PulseFeed/istimewa
3 dari 5 halaman
Kisah Juki, lestarikan budaya lewat wayang kardus
Wayang kardus karya Juki. Juki membanderol wayang kardusnya tak lebih dari Rp 100 ribu. Harga tersebut jauh lebih murah dibanding wayang kulit yang harganya sekitar Rp 300 ribu. ©2015 PulseFeed/istimewa
4 dari 5 halaman
Kisah Juki, lestarikan budaya lewat wayang kardus
Selain itu, Juki juga membuka pelatihan demi mengenalkan dan melestarikan kesenian wayang. ©2015 PulseFeed/istimewa
5 dari 5 halaman
Kisah Juki, lestarikan budaya lewat wayang kardus
Berkat keterampilannya, nama Juki kian dikenal. Dia pernah diundang dalam sebuah woekshop pagelaran wayang Indonesia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Juki juga pernah mengikutsertakan karyanya dalam pameran wayang di Dallas, Amerika Serikat. ©2015 PulseFeed/istimewa
Rekomendasi