Pemerintah menyambut baik ajakan Presiden Filipina Rodrigo Duterte membentuk pasukan khusus memerangi kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di wilayah perbatasan Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Terlebih, selama ini ketiga ketiga negara mempunyai kerjasama di bidang menjaga keamanan zona memerangi perampokan dan kelompok radikalisme."Pertemuan antara tiga menteri luar negeri dan juga panglima tertingginya dan menteri pertahanan sudah dilakukan," kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung di Kompleks Istana, Jakarta, Selasa (5/9).Pramono mengatakan, bahkan kalau diperlukan pembahasan soal ISIS itu dilakukan saat para kepala negara bertemu pada KTT ASEAN di Filipina November mendatang. Kebetulan dalam agenda tersebut beberapa pemimpin negara yang berkuasa seperti China, Amerika, Uni Eropa, Australia dan sebagainya hadir. "Tentunya itu bisa digunakan. Apakah menunggu saat itu atau saat ini tentunya Indoensia siap kapan saja menjaga kawasan ini," kata Pramono.Sebelumnya, Presiden Filipina Rodrigo Duterte kemarin mengatakan dia akan berdiskusi dengan Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak untuk membentuk pasukan khusus memerangi kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).Duterte bahkan menyatakan bersedia membuka perbatasan kepada pasukan Indonesia dan Malaysia untuk memburu para militan. Dia berencana bertemu Joko Widodo dan Najib Razak untuk membahas masalah ini."Kita sudah sepakat akan membahas hal ini, hanya kami bertiga. Kami masih menunggu waktu yang tepat," kata dia kepada wartawan, seperti dilansir laman ABS CBN News, Senin (4/9).Ketika ditanya apa yang akan dibahas, Duterte menjawab,"Kemungkinan pasukan khusus gabungan dan saya akan membuka perbatasan bagi otoritas Malaysia dan Indonesia. Mereka akan diberi akses."Ketiga negara di Asia Tenggara ini sebelumnya sudah sepakat akan mengerahkan pesawat pengintai dan pesawat tanpa awak (drone) untuk memantau pergerakan kelompok militan di perbatasan.Juni lalu ketiga negara setuju bekerjasama dengan intelijen dan memblokir transaksi keuangan kelompok militan.Duterte memberi sinyal pertemuan dengan Presiden Jokowi dan Perdana Menteri Najib akan berlangsung setelah pasukannya membebaskan Kota Marawi dari para militan ISIS.Selama lebih dari seratus hari konflik di Marawi korban tewas tercatat 600 militan, 45 warga sipil, dan 136 polisi serta tentara Filipina.
Indonesia siap bahas pasukan khusus perangi ISIS di KTT ASEAN
Indonesia siap bahas pasukan khusus perangi ISIS di KTT ASEAN. Terlebih, selama ini ketiga ketiga negara mempunyai kerjasama di bidang menjaga keamanan zona memerangi perampokan dan kelompok radikalisme.
Advertisement
Rekomendasi
