60 persen buku atau naskah kuno di perpustakaan Reksa Pustaka Istana Mangkunegaran rusak. Agar tak semakin parah, proses digitalisasi dilakukan. Harapannya, naskah-naskah bersejarah itu bisa dibaca melalui komputer.
Pengelola Reksa Pustaka, Darweni, mengatakan, saat ini hampir 30 persen koleksi buku di perpustakaan tersebut sudah bisa dibaca lewat komputer. Dengan digitalisasi tersebut, ilmu yang ada di dalam buku berumur 500 tahun tersebut bisa berusia lebih panjang.
"Usia kertasnya sudah 500 tahun. Setiap ada yang membuka, pasti terkena minyak tangan kita, kena asam," ujar Darweni saat dijumpai wartawan, Jumat (14/2).
Menurutnya, koleksi perpustakaan yang berusia 152 tahun itu, mencapai 11 ribu. 700 di antaranya merupakan manuskrip kuno. Namun hingga saat ini baru 3.132 koleksi yang sudah selesai didigitalisasi.
Didigitalisasi diutamakan pada naskah yang kerusakannya parah, kemudian buku yang paling banyak dibaca. Di antaranya buku karya Mangkunegara I, Babad Nitik tahun 1780, yang berisi kisah Mangkunegara I. Buku tersebut sampai saat ini masih relevan.
Advertisement
Kendati sudah didigitalisasi, namun koleksi perpustakaan di Istana Mangkunegaran tersebut tidak dapat diakses secara online. Pengunjung harus datang ke perpustakaan dan mengaksesnya lewat komputer yang disediakan.
"Digitalisasi dilakukan PT Unibless Indo Multi melalui program tanggung jawab sosial PT Epson Indonesia,"katanya.
Direktur PT Unibless Indo Multi, Sylvie Selyn Sembiring, mengatakan proses digitalisasi 3 ribu koleksi tersebut membutuhkan waktu 6 bulan. Sejumlah kendala di antaranya kondisi buku yang sudah rapuh. Apalagi terdapat buku-buku yang cukup tebal.
"Untuk 3 ribu buku kita butuh waktu 6 bulan. Kita harus sangat berhati-hati karena sudah rapuh. Jadi tidak bisa cepat, perlu beberapa menit mengerjakan satu halaman," pungkas dia.
