Polisi Minta Maaf Soal Pengejaran Pendemo & Gas Air Mata di Permukiman Warga Kwitang

Meski mengakui adanya gas air mata, Heru membantah pihaknya telah melepaskan peluru karet untuk membubarkan massa yang berlarian ke arah permukiman warga Kwitang.

Nur Habibie
Oleh Nur Habibie - Reporter
Polisi Minta Maaf Soal Pengejaran Pendemo & Gas Air Mata di Permukiman Warga Kwitang
Kerusuhan di Kwitang. ©2020 Istimewa

Beredar video permukiman warga di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, dihujani gas air mata. Peristiwa itu terjadi pada Selasa (13/10) malam kemarin.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Heru Novianto, peristiwa itu terjadi saat anggotanya sedang membubarkan massa pendemo UU Cipta Kerja. Massa dipukul mundur dari arah Tugu Tani, Jakarta Pusat masuk ke permukiman warga.

"Itu pas pembubaran massa dari Tugu Tani, mereka dikejar masuknya ke arah perumahan itu dan itu sudah tiga kali. Jadi pertama dikejar dia masuk ke perumahan situ, kita lewat keluar lagi bakar-bakar lagi," kata Heru, Jakarta, Rabu (14/10).

Kondisi tersebut, sambungnya, membuat polisi melakukan pengejaran. Apalagi lagi, mereka dipastikan bukan warga setempat.

"Kita dorong, masuk situ lagi dan itu memang bukan orang kampung situ semua. Tapi mereka berlindung di kampung situ makanya kemarin penindakannya sampai masuk ke dalam," ujarnya.

Heru meminta maaf telah mengganggu kenyamanan warga atas insiden itu. Dia pastikan pula, sejumlah orang yang masuk ke permukiman warga berhasil ditangkap.

"Ya pasti mengganggu kalau itu, kita juga kena gas air mata pasti enggak tahan. Cuma masalahnya kalau kita enggak selesaikan tuntas mereka akan keluar lagi-keluar lagi. Tapi malam itu kami Babinkamtibmas terus Babinsa masuk ke dalam sana untuk imbau warga yang bukan warga situ jangan diterima malah masuk, malah diumpetin. Jadi akhirnya kemarin mereka sepakat tidak ada warga di luar warga situ yang ngumpet di situ, jadi selesai," jelasnya.

Bantah Pakai Peluru Karet

Meski mengakui adanya gas air mata, Heru membantah pihaknya telah melepaskan peluru karet untuk membubarkan massa yang berlarian ke arah permukiman warga Kwitang.

"Enggak ada (peluru karet), kita pakai gas air mata semua. Kalau kena itu mungkin karena dia sentuh langsung atau pecahan dari gas air mata itu," tegasnya.

"Tapi kita enggak ada menggunakan peluru karet. Kapolri sudah perintahkan enggak boleh menggunakan peluru karet," sambungnya.

Menurutnya, dalam kejadian itu tak ada warga yang menjadi korban luka terkecuali terkena gas air mata.

"(Korban dari warga) Ya paling kena gas air mata itu saja. Memang pedas kan, tapi yang jelas fasilitas umum tidak ada yang terbakar tidak ada dirusak," tutupnya.

Rekomendasi