Sebanyak 25 ribu peserta dari berbagai lapisan masyarakat membanjiri Lapangan Simpang Lima Semarang pada Minggu, 9 Agustus 2026, untuk mengikuti Festival Tari Dug Dug Der Semarangan. Acara kolosal ini tidak hanya menjadi ajang kebersamaan, tetapi juga berhasil mencatatkan rekor baru di Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (Leprid).
Pemerintah Kota Semarang secara resmi diakui oleh Leprid sebagai "Pemrakarsa dan Penyelenggara Rekor Festival Nari Bareng ‘Dug Dug Der Semarangan’ diikuti Peserta Terbanyak". Penghargaan bergengsi ini diserahkan langsung oleh Pendiri sekaligus Ketua Umum Leprid, Paulus Pangka, kepada Wali Kota Semarang.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menegaskan bahwa pencapaian ini adalah milik seluruh masyarakat Kota Semarang. Ia menekankan pentingnya partisipasi aktif warga dalam mencintai dan merawat warisan budaya kota, menjadikan rekor ini sebagai pemicu semangat, bukan tujuan akhir semata.
Advertisement
Advertisement
Rekor Leprid dan Kebersamaan Warga Semarang
Piagam penghargaan dari Leprid dengan nomor No. 1.037/LEPRID/VIII/2026 menjadi bukti nyata keberhasilan Kota Semarang dalam menyelenggarakan acara budaya berskala besar ini. Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti menyatakan bahwa rekor ini merupakan cerminan dari semangat kebersamaan yang kuat di antara warga.
“Rekor ini bukan tujuan akhir. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat ikut memiliki dan mencintai budaya Kota Semarang," ujarnya, menekankan bahwa partisipasi aktif warga adalah kunci utama. Ia menambahkan bahwa pencapaian ini menunjukkan bagaimana seluruh warga Kota Semarang bersatu padu dalam merawat tradisi lokal mereka.
"Ketika 25 ribu orang menari bersama, kita melihat ada kebersamaan, kegembiraan, dan rasa bangga menjadi bagian dari Kota Semarang," kata Agustina, menggambarkan suasana meriah dan penuh semangat di Lapangan Simpang Lima. Antusiasme peserta dalam menarikan Tari Dug Dug Der Semarangan menjadi simbol kuat identitas kota.
Advertisement
Advertisement
Melestarikan Tradisi Lokal dan Mendekatkan dengan Generasi Muda
Tari Dug Dug Der Semarangan, menurut Wali Kota, berfungsi sebagai jembatan yang efektif untuk membawa tradisi lokal ke ruang publik dan mendekatkannya dengan generasi muda. Hal ini penting agar budaya tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, melainkan bagian integral dari kehidupan sehari-hari.
"Budaya harus hidup. Anak-anak muda harus mengenal, mempelajari, dan ikut mengekspresikannya. Kalau masyarakat ikut menari, budaya itu tidak disimpan sebagai sejarah semata, melainkan benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari," jelasnya. Ini menunjukkan komitmen Pemerintah Kota Semarang untuk revitalisasi budaya.
Tari Dug Dug Der Semarangan memiliki akar kuat dari tradisi Dugderan yang telah ada sejak abad ke-19. Nama "Dugderan" sendiri berasal dari perpaduan suara bedug "dug" dan dentuman meriam "der" yang menjadi penanda datangnya bulan Ramadhan. Tradisi ini juga erat kaitannya dengan ikon Warak Ngendog, yang melambangkan akulturasi budaya di Kota Semarang.
Advertisement
Advertisement
Simbol Keberagaman dan Semangat Kemerdekaan
Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti menekankan bahwa nilai keberagaman yang terkandung dalam tradisi Dugderan perlu terus diinterpretasikan melalui berbagai ekspresi seni yang relevan dengan perkembangan zaman. Kota Semarang, yang dibangun di atas fondasi keberagaman, menjadikan budaya sebagai alat pemersatu.
"Kota Semarang dibangun dari keberagaman, sehingga budaya harus menjadi ruang yang menyatukan. Dug Dug Der diciptakan sebagai karya yang bisa dilakukan bersama, dinikmati bersama, dan menjadi kebanggaan bersama," tuturnya. Festival Tari Dug Dug Der Semarangan ini menjadi bukti nyata bagaimana seni dapat merangkul perbedaan.
Penyelenggaraan Festival Nari Bareng Tari Dug Dug Der Semarangan juga merupakan bagian dari rangkaian perayaan menyambut Hari Ulang Tahun Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. "Kemerdekaan mengajarkan kita untuk bersatu dalam keberagaman. Hari ini kita menunjukkan bahwa budaya menjadi bahasa yang efektif untuk mempererat masyarakat," pungkasnya.
Advertisement
Dalam kesempatan yang sama, apresiasi turut diberikan kepada berbagai pihak yang telah mendukung suksesnya acara ini. Salah satu penghargaan khusus diterima dari Museum Gubug Wayang (MGW), yang diwakili oleh Penasehat MGW Group, Kombes Polisi Tri Suhartanto, menandakan kolaborasi lintas sektor dalam pelestarian budaya.
Sumber: AntaraNews
