Mantan Ketua DPC Partai Demokrat Cilacap, Tri Dianto, sedang merencanakan untuk membuat Kongres Luar Biasa (KLB) tandingan. Sebab, menurut dia, KLB yang baru saja mendudukkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai ketua umum itu jauh dari demokratis.
"Saya akan mengkaji apakah KLB kemarin cacat atau tidak," kata Tri Dianto saat dihubungi PulseFeed, Senin (1/4).
Menurut Tri Dianto, KLB tidak demokratis karena dia sebagai salah satu calon ketua umum tidak boleh masuk ke arena kongres.
"Mas Marzuki Alie, dan Kang Saan juga ditekan-tekan untuk tidak maju," ujar loyalis Anas Urbaningrum, mantan ketua umum Partai Demokrat, ini.
Pengusaha jamu asal Cilacap ini mengatakan, proses aklamasi yang memilih SBY sebagai ketua umum juga dipaksakan. Menurut dia, aklamasi memang bagian demokrasi, "Tapi tidak seperti itu."
"Pendukung saya banyak, saya kecewa saya tidak bisa masuk ke arena. Kalau akan ada voting, kalau kalah toh saya hormati dan saya akan beri selamat kepada SBY," ujar Tri.
Pada KLB Demokrat akhir pekan lalu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpilih sebagai ketua umum. SBY menggantikan Anas yang mengundurkan diri setelah menjadi tersangka dugaan korupsi Hambalang.
