Pol-Tracking Institute merilis hasil riset pemberitaan media, baik tentang capres 2014, maupun soal partai politik (Parpol). Riset ini dilakukan pada periode Februari-Maret 2013. Hasilnya, konflik internal partai politik (parpol) lebih sering diberitakan ketimbang kebijakan dan kinerja partai.
Manager Riset Pol-Tracking Institute Arya Budi mengatakan, sebanyak 25 persen pemberitaan yang dilakukan oleh media terhadap partai politik mencakup konflik parpol. Selain konflik, kata Arya, kasus hukum yang menjerat para kader partai politik juga menjadi pusat pemberitaan media massa yakni sebanyak 22 persen.
"Secara umum, menjelang musim pemilu, partai lebih banyak disibukkan oleh agenda internal, seperti berita konflik sebanyak 25 persen dan kasus hukum kader 22 persen," jelas Arya dalam jumpa pers di Warung Bumbu Desa, Kebayoran Baru, Jakarta, Minggu (14/4).
Menurut dia, ini justru berbanding terbalik dengan pelaksaan dan optimalisasi fungsi partai politik secara keseluruhan. Misalnya, pemberitaan kegiatan partai 12 persen, kinerja partai 4 persen dan kebijakan politik 19 persen.
Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling pada 15 media yang terdiri dari 5 media cetak (Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Seputar Indonesia), 5 media online (Detik.com, Kompas.com, Merdeka.com, Okezone.com, Viva.co.id) dan 5 media televisi (Trans Tv, SCT, RCTI, Metero TV dan Tv One).
Proses penyeleksian media didasarkan pada cakupan wilayah (media nasional), rating online, berita Tv, serta kepemilikan media. Sedangkan pengumpulan data dilakukan pada periode 1 Februari-31 Maret 2013.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan mengumpulkan dan menganalisis (content analysis) serta analisis sosiopolitik mengenai pemberitaan (critical discourse analysis) terkait tema berita partai politik dan calon presiden.
