Dalam beberapa tahun ini, sudah banyak dokter mencoba membuat obat bagi para penderita penyakit Alzheimer. Penyakit ini diderita hampir oleh semua orang lanjut usia. Akan tetapi, pada bulan Februari lalu, National Institutes of Health telah berhasil menemukan cara yang dapat melawan penyakit ini. Percobaan pertama dilakukan pada seekor tikus.
Riset ini diketuai oleh Li-Huei Tsai, Ph.D, pimpinan dari The Picower Institute for Learning and Memory di the Massachusetts Institute of Technology yang juga merangkap sebagai salah seorang peneliti di Howard Hughes Medical Institute.
Dalam riset ini, Dr. Tsai dan timnya berhasil menemukan bahwa sebuah protein yang diberi nama Histone Deacetylase 2 (HDAC2), mampu untuk memperbaharui sel-sel otak dan DNA dalam tubuh untuk melawan penyakit Alzheimer. Dalam percobaan tersebut, HDAC2 ternyata mampu menjaga kestabilan memori dalam otak serta melindungi otak dari kemungkinan terjadinya kehilangan memori. Dr. Tsai dan timnya membuat riset pertama dengan memelihara dua ekor tikus yang sama-sama telah terjangkit penyakit Alzheimer. Ketika salah satu dari tikus tersebut disuntikkan HDAC2 dan tikus satunya lagi dibiarkan seperti apa adanya, perbedaan mulai nampak. Tikus yang telah disuntik HDAC2 lebih mampu dengan cepat mengenali semua hal dibanding dengan tikus yang dibiarkan begitu saja.
Dr. Tsai membuat suatu teori bahwa HDAC2 dapat juga dicampur dengan Beta-Amyloid. Dengan bercampurnya Beta-Amyloid dengan HDAC2, maka HDAC2 akan mengalami peningkatan secara alami. Walaupun begitu, penggunaan Beta-Amyloid dalam skala besar dapat memicu terjadinya kerusakan kronis pada sistem otak. Menurut Gizmag.com, Dr. Tsai dan timnya masih terus melakukan riset ini untuk mencapai hasil yang maksimal dan dia ingin menciptakan sebuah pil yang berisi HDAC2 untuk para penderita Alzheimer.
