Bukan Karena Asteroid, Ilmuwan Temukan Penyebab Lain Dinosaurus Punah

Penelitian ini baru dilakukan. Mengungkap penyebab lain dinosaurus punah.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Bukan Karena Asteroid, Ilmuwan Temukan Penyebab Lain Dinosaurus Punah
Bukan Karena Asteroid, Ilmuwan Temukan Penyebab Lain Dinosaurus Punah (© Pixabay/elvina1332)

Penelitian ini baru dilakukan. Mengungkap penyebab lain dinosaurus punah. 

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kepunahan dinosaurus disebabkan oleh aktivitas vulkanik, bukan serangan asteroid

Sebelumnya, para ilmuwan telah berdebat tentang apa penyebab dari lenyapnya tiga perempat kehidupan di Bumi 66 juta tahun yang lalu ini. Pendapat secara umum terbagi menjadi dua: serangan asteroid atau letusan gunung berapi.

Kini, para ilmuwan mulai menggunakan metode lain untuk memastikan penyebab sebenarnya dari kepunahan ini, yaitu komputer. 

Kini, para ilmuwan mulai menggunakan metode lain untuk memastikan penyebab sebenarnya dari kepunahan ini, yaitu komputer. 
Dok. Istimewa

Menurut laporan ScienceNews dan Wired, Minggu (26/11), metode ini menunjukkan bahwa semburan gas dari erupsi Deccan Traps adalah penyebab utama dari kepunahan ini.

“Temuan kami secara khusus mendukung gagasan bahwa vulkanisme telah mengganggu atmosfer dan iklim jauh sebelum asteroid,”

Alexander Cox, ahli geologi komputasi di Dartmouth College, AS yang merupakan penulis utama studi ini.

Cox menyatakan bahwa lingkungan yang menyebabkan kepunahan dinosaurus ini dapat tercipta hanya dari aktivitas vulkanisme, tanpa adanya asteroid.

Cox menyatakan bahwa lingkungan yang menyebabkan kepunahan dinosaurus ini dapat tercipta hanya dari aktivitas vulkanisme, tanpa adanya asteroid.
Dok. Istimewa

“Tapi tentu saja kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa asteroid jelas tidak membuat dinosaurus bahagia,” lanjut Cox.

Metode Berbeda

Studi ini menggunakan model statistika yang disebut pendekatan rantai Markov Monte Carlo. Pendekatan ini secara sistematis mempertimbangkan kemungkinan berbagai skenario emisi gas dari berbagai sumber.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Yang membuat pendekatan ini sangat ampuh adalah karena para peneliti memanfaatkan 128 prosesor berbeda untuk menjalankan skenario secara paralel. Ini memungkinkan komputasi yang seharusnya memakan waktu setahun menjadi hanya beberapa hari saja.

Data yang digunakan adalah data yang dikumpulkan dari tiga inti yang dibor ke dalam sedimen laut dalam, masing-masing berumur 67 juta hingga 65 juta tahun yang lalu.

Di dalamnya terdapat sejenis mikroorganisme laut bernama foraminifera, yang cangkangnya mengandung isotop karbon dan oksigen yang berbeda.

Susunan kimia dalam cangkang ini mencatat kandungan kimia laut saat pembentukannya, sehingga dapat digunakan sebagai proksi untuk menyimpulkan suhu global di masa lalu.

Selain itu, banyaknya makhluk yang hidup di lautan, dan berapa banyak karbon yang berpindah di atmosfer, lautan dan daratan.

Bagiamana Hasilnya?

<b>Bagiamana Hasilnya?</b><br>
Dok. Istimewa

Hasilnya, jumlah gas yang disemburkan ke atmosfer dari letusan Deccan Traps saja sudah cukup untuk menjelaskan perubahan suhu dan siklus karbon yang didapat dari data foraminifera.Sayangnya, hasil ini masih dianggap belum cukup oleh banyak ilmuwan lain. 

Alasannya karena rasio isotop oksigen dalam cangkang foraminifera bisa berubah karena komposisi air laut juga, bukan hanya karena suhu. 

Alasannya karena rasio isotop oksigen dalam cangkang foraminifera bisa berubah karena komposisi air laut juga, bukan hanya karena suhu.&nbsp;
Dok. Istimewa

Selain itu, benturan dari asteroid Chicxulub juga masih sangat mungkin mempengaruhi lingkungan planet meski tidak menyebabkan lonjakan emisi gas yang besar.

Rekomendasi