Tingginya tingkat konsumsi masyarakat Jakarta membuat pengusaha berlomba-lomba membangun pusat belanja atau mal mewah yang disatukan dengan apartemen. Data Badan Pusat Statistik Jakarta menunjukkan pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga pada tahun 2011 mencapai 57 persen terhadap produk domestik bruto yang mencapai 982,54 atas dasar harga berlaku.
Penetrasi pembangunan mal Jakarta, ternyata dinilai tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatannya. Tidak sedikit mal mewah yang berada di jantung kota, sepi pengunjung, dikalahkan oleh ramainya pasar tradisional atau pusat grosir Tanah Abang.
Pengamat Kebijakan Publik Andrinof Chaniago menilai mal di jakarta hanya sebagai pelampiasan warga ibu kota untuk berekreasi atau berwisata untuk lari dari rutinitas sehari-hari karena minimnya fasilitas publik. "Animo masyarakat terhadap mal atau one stop shopping yang bergengsi sudah mulai meredup," katanya.
Dia menilai banyak mal yang sudah terlanjur dibangun ternyata dalam perkembangannya tidak terlalu diminati masyarakat bahkan banyak gerai yang kosong ditinggalkan perdagangnya. Hal ini bisa dilihat dari salah satu mal seperti Citywalk Sudirman atau Central Park.
"Rata-rata masyarakat sudah mulai jenuh dengan aktifitas ke pusat perbelanjaan yang monoton, tidak hanya mall kelas menengah bahkan kelas atas sekali pun," ujarnya.
Dia mengatakan lesunya penjualan barang di mal Jakarta, selain sudah terlalu banyak mal yang menjamur seantero Jakarta. Perkembangan bisnis belanja online memberikan pengaruh pada kunjungan warga ke mal. Kemudahan belanja online, menjadi alternatif warga kelas menengah atas, untuk memenuhi kebutuhannya.
"Mempertimbangkan faktor waktu dan kemacetan, masyarakat sekarang lebih senang mengklik smartphone-nya untuk membeli sesuatu," katanya. Kalau sudah begini, apakah pesta diskon bisa mendongkrak penjualan di mal ?
