Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil singkong. Data Kementerian Pertanian mencatat produksi tanaman yang identik dengan makanan rakyat jelata itu mencapai 19,92 juta ton sepanjang tahun lalu.
Data yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik (BPS) justru menunjukkan kondisi yang kontraproduktif. Negara ini justru mengimpor singkong dengan nilai mencapai Rp 32 miliar dalam 10 bulan terakhir.
Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan situasi tidak lepas dari pertumbuhan industri makanan dan minuman dalam negeri. Harus dipahami bahwa masalahnya ada pada minimnya pengolahan singkong mentah menjadi cassava stash alias tepung singkong. Jadi dia berharap semua pihak, termasuk petani, tidak buru-buru protes.
"Kapasitas produksi industri makanan minuman meningkat, sehingga mereka beli tepung untuk bahan baku makanan minuman. Itu yang tidak diikuti produksi tepung singkong dalam negeri," ujar Bayu saat ditemui di Gedung DPR, Rabu (12/12).
Industri makanan dan minuman tahun ini memang meningkat pesat. Pertumbuhan industri makanan, minuman, dan tembakau pada triwulan I 2012 mencapai 8,19 persen. Pertumbuhan itu diperkirakan bakal stabil sampai akhir tahun karena konsumsi makanan dan minuman di pasar domestik merupakan yang tertinggi di ASEAN.
Karena itu Bayu menilai selama tepung singkong yang menjadi kebutuhan industri belum bisa dipasok oleh petani maupun pengusaha lokal, maka impor bakal terus terjadi.
"Industri itu butuhnya tepung singkong, bukan singkong utuh, bukan singkong chips, melainkan bahan makanan cassava stash," paparnya.
Dalam catatan Kemendag, impor singkong sampai September tahun ini sebesar 594.000 ton. Dari jumlah tersebut, 98,6 persen adalah tepung singkong.
Dia menambahkan dua negara yang paling banyak mengirim singkong ke Indonesia adalah Vietnam dan Thailand. "dua itu yang paling besar, sisanya nanti kita selidiki lagi," jelasnya.
