Ekspor non migas tahun ini ditarget surplus USD 5 miliar

Tahun lalu, mitra dagang yang paling membuat Indonesia untung adalah Pakistan.

Ardyan Mohamad
Oleh Ardyan Mohamad - Reporter
Ekspor non migas tahun ini ditarget surplus USD 5 miliar
Pelabuhan. ©2013 Merdeka.com/arie basuki

Kementerian Perdagangan (Kemendag) bakal menggenjot pertumbuhan ekspor non migas sebagai pendorong kinerja ekspor-impor tahun ini. Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi yakin ekspor hasil perkebunan dan produk bernilai tambah seperti mobil, suku cadang, dan tekstil dapat menyumbang surplus hingga USD 5 miliar di akhir tahun ini.

Dia menyebutkan, surplus ekspor non migas tahun lalu mencapai USD 3,9 miliar. Kejutan terbesar adalah peningkatan ekspor logam dasar semisal timah, nikel, dan baja yang melonjak hingga 447 persen. Ekspor suku cadang dan bagian mobil juga dianggap menggembirakan karena mencapai USD 4,8 juta tahun lalu.

Bayu menyebut, sektor nonmigas sebagai tumpuan utama perdagangan Indonesia ke depan. "Kita punya produk-produk yang semakin beragam dalam hal ekspor, dan produk-produk ini memiliki nilai ekspor yang cukup baik," ujarnya di kantornya, Senin (4/3).

Kemendag mengklaim, peningkatan nilai ekspor non migas sebagai bagian dari keberhasilan hilirisasi. Contoh nyatanya adalah ekspor olahan coklat dan logam dasar. Beberapa tambang tahun ini sudah mulai membangun instalasi pemurnian timah dan tembaga, sehingga nilai ekspor mulai tergenjot.

"Kita menerapkan hilirisasi, ternyata pengaruhnya bisa menghasilkan pertumbuhan ekspor," kata Bayu.

Beberapa strategi Kemendag untuk meningkatkan ekspor nonmigas tahun ini adalah memasuki negara tujuan ekspor non-konvensional, khususnya melalui misi dagang intensif ke Timur Tengah dan Afrika. Program hilirisasi juga menjadi andalan lain peningkatan volume ekspor non-migas.

"Karena itu, kalau tahun lalu kita bisa surplus USD 3,9 miliar, tahun ini kita perkirakan untuk nonmigas bisa surplus mencapai USD 5 miliar," tegasnya.

Langkah menggenjot non-migas dipilih karena impor minyak untuk bahan bakar subsidi masih tetap tinggi. Senada dengan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, meski ekspor produk-produk bernilai tambah melonjak, akhir tahun nanti neraca perdagangan bakal tetap negatif lantaran impor minyak akan tetap tinggi seperti 2012 yang menghasilkan defisit mencapai USD 1,7 miliar.

"Ada banyak alasan untuk optimis. Tapi perlu saya tekankan tidak bisa berpuas diri dengan nonmigas saja, karena tekanan migasnya akan tinggi tahun ini," ungkap Bayu.

Dari sisi negara tujuan ekspor, mitra dagang yang paling membuat pemerintah untung tahun lalu adalah Pakistan. Ekspor ke negara tetangga India itu tumbuh 48 persen, mencapai USD 447 juta, disusul Arab saudi USD 343 juta (naik 24 persen), dan Afrika Selatan USD 236 juta (naik 16,7 persen)

Rekomendasi