PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) secara resmi menjadi anggota Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah melakukan pencatatan saham perdana hari ini, Kamis (16/1).
Direktur Utama BINA Edy Kutardjo mengatakan, melalui penawaran saham perdana, perseroan menargetkan rasio permodalan (CAR) meningkat dari 17 persen menjadi 22 persen.
Melalui IPO, modal disetor yang diperoleh sekitar Rp 124,8 miliar. Dengan modal disetor yang sudah ada saat ini sekitar 158 miliar, maka total modal disetor adalah Rp 282,8 miliar.
"Dengan IPO ini, kami akan meningkatkan permodalan. CAR kita 17 persen, dengan tambahan modal jadi sekitar 22 persen," kata Edy di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (16/1).
Edy menambahkan, perseroan juga mematok pertumbuhan kredit tahun ini sebesar 20 persen. Tahun lalu, sektor kredit perseroan bertumbuh 10 persen. "Tambahan modal seluruhnya akan digunakan untuk menggenjot kredit tahun ini," ungkap Edy.
Perseroan masih akan fokus menggarap sektor bisnis mikro dengan anggapan bahwa sektor mikro masih memberikan imbal hasil yang besar bagi perseroan. "Return kredit mikro lebih besar. Selain itu, risikonya lebih bisa kami kendalikan. Pendapatan bunga yang kami peroleh dari kredit mikro, paling besar," jelas Edy.
Dalam situs resminya tercatat SBDK (suku bunga dasar kredit) untuk kredit mikro sebesar 15,25 persen, kredit ritel 13,25 persen, kredit korporasi 13,25 persen, KPR 13,25 persen dan kredit non KPR 14,75 persen. Saat ini, pendapatan bunga bersih BINA mencapai Rp 4,58 miliar.
