Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menilai sebagian pengusaha dan pemerintah anggota Uni Eropa tak berhenti mengkritik kualitas produksi sawit Indonesia. Supaya tekanan yang bermula dari persaingan dagang itu tak merugikan, ada baiknya petani dan pengusaha lokal kompak menanam sawit lestari (sustainable palm oil).
Sampai sekarang, masih banyak anggota Uni Eropa memberi hambatan bea masuk kepada sawit asal Tanah Air. Alasannya minyak sawit Indonesia dihasilkan dari proses merusak lingkungan. Selain itu, mutu produksi dituding buruk, yang menyebabkan kandungan kolesterol jahat di minyak sawit Indonesia tinggi.
"Kami terus melakukan negosiasi. Masih banyak berbagai tuduhan, mereka masih mengatasnamakan EU (European Union) jadi kita tidak bisa bedakan negaranya," kata Bayu di kantornya, Jakarta, Selasa (2/9).
Sejalan dengan pelbagai serangan tersebut, ekspor sawit lestari semakin melonjak. Bayu melihat itu peluang agar Indonesia lepas dari serangan Uni Eropa yang tak proporsional.
"Pada waktunya Indonesia hanya akan mengekspor sawit lestari," tegasnya.
Data Organisasi Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) Indonesia, produksi sawit berkelanjutan di Indonesia mencapai 4,8 juta ton. Itu mencakup 47,8 persen produksi sawit berkelanjutan dunia. Baru setelah Indonesia, sumbangan sawit lestari global datang dari Malaysia (43,9 persen), dan Papua Nugini (8,2 persen).
Atas dasar itu, Kemendag mengapresiasi langkah perusahaan seperti PT Asian Agri yang menyalurkan premium sharing hingga Rp 2,5 miliar kepada para petani plasma. Langkah-langkah ini akan memberi semangat tambahan kepada penanam sawit mandiri untuk memilih komoditas sawit lestari.
Keuntungan lainnya, ekspor ke pasar Uni Eropa juga akan lebih terjamin. "Penting memberikan apresiasi para petani untuk menanam sawit bersertifikat internasional," kata Wamendag.
Indonesia masih menjadi negara pengekspor sawit terbesar sejagat. Nilai ekspor crude palm oil tahun lalu mencapai USD 16,5 triliun. Sedangkan khusus pada 2014, Kementerian Perdagangan berharap nilai ekspor itu bisa meningkat hingga USD 18,5 triliun.
