Program konversi bahan bakar minyak (BBG) ke bahan bakar gas (BBG) di Indonesia belum mengalami banyak kemajuan sejak dicanangkan pada 2005. Bahkan jauh tertinggal ketimbang Malaysia yang juga mulai melaksanakan program sejenis di tahun sama
Ketua Komite Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri menyebut, pada 2012, Malaysia memiliki 51.364 kendaraan berbahan bakar gas, tumbuh rata-rata 107,35 persen per tahun. Selain itu, negeri serumpun itu juga memiliki 170 stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG).
Bandingkan dengan Indonesia yang baru memiliki segelintir kendaraan ber-BBG dan 19 SPBG.
Menurut Faisal, pemerintah tak sungguh-sungguh merencanakan program tersebut.
"Ini terutama masalah lambatnya pengembangan infrastruktur, diduga ada konflik kepentingan dari pebisnis minyak yang tidak mau berkurang marginnya" ujar Faisal di Jakarta, Senin (17/11). â¬
âªDia melanjutkan, pihaknya bakal mengidentifikasi kendala penghambat konversi untuk kemudian memberikan rekomendasi perbaikan kepada pemerintah. Seiring itu, dia meminta pemerintah tetap menggenjot konversi di kota besar.
Caranya tidak lain adalah memercepat pembangunan infrastruktur penunjang.
"Perlu tindakan tegas dari Pemerintah agar benturan kepentingan tidak berlarut larut," tegasnya.
