CEO MMA Asia Pasifik Sebut Peluang Pertumbuhan Ekonomi Digital di Luar Jakarta

Ia menilai tantangan utama industri saat ini bukan lagi soal teknologi. Dia justru menyebut teknologi hanya menjadi alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar, yakni membangun kepercayaan konsumen.

Winda Nelfira
Oleh Winda Nelfira - Reporter
CEO MMA Asia Pasifik Sebut Peluang Pertumbuhan Ekonomi Digital di Luar Jakarta
CEO Asia Pasifik (APAC) di Marketing + Media Alliance (MMA), Rohit Dadwal dalam acara MMA Marketing Talk Indonesia 2026 di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (16/7/2026). (Liputan6.com/Winda)

CEO Asia Pasifik (APAC) di Marketing + Media Alliance (MMA), Rohit Dadwal menilai peluang pertumbuhan ekonomi digital Indonesia ke depan justru berada di luar Jakarta. Menurutnya, masih banyak masyarakat di berbagai daerah yang belum tersentuh secara optimal oleh industri pemasaran dan periklanan digital.

"Kita perlu berinvestasi pada talenta, kita perlu berinvestasi pada AI dan kita harus melihat melampaui Jakarta," kata Rohit dalam acara MMA Marketing Talk Indonesia 2026 di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, dikutip Jumat (17/7).

Kepala Global untuk penghargaan SMARTIES itu mengatakan, terdapat populasi besar di luar Jakarta yang masih menyimpan potensi bagi industri pemasaran Indonesia. Namun, upaya memperluas pasar tersebut tidak cukup hanya dengan menyampaikan pesan pemasaran.

"Ada populasi besar yang belum terjamah dari perspektif periklanan dan pemasaran. Tapi ini bukan hanya soal menyampaikan pesan kepada mereka. Adopsi di seluruh pasar tersebut perlu dibangun dan kepercayaan konsumen tersebut perlu dibangun," ungkap Rohit.

Ia menilai tantangan utama industri saat ini bukan lagi soal teknologi. Dia justru menyebut teknologi hanya menjadi alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar, yakni membangun kepercayaan konsumen.

"Masalah di sini bukan soal teknologi. Teknologi adalah sarana untuk mencapai tujuan. Tujuannya adalah membangun kepercayaan dengan konsumen tersebut," katanya. 

Adaptasi Perubahan Pasar

CEO Asia Pasifik (APAC) di Marketing + Media Alliance (MMA), Rohit Dadwal
CEO Asia Pasifik (APAC) di Marketing + Media Alliance (MMA), Rohit Dadwal dalam acara MMA Marketing Talk Indonesia 2026 di Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (16/7/2026). (Liputan6.com/Winda)

Rohit mengatakan, jika kepercayaan berhasil dibangun, pelaku industri akan lebih mudah beradaptasi terhadap perubahan pasar melalui pemanfaatan data dan teknologi.

"Jika kita mampu membangun itu, bereksperimen dengan cepat, belajar, mengukur hasil-hasil tersebut, kita mampu beradaptasi dengan hasil tersebut," ucap Rohit.

Rohit juga menegaskan bahwa wilayah di luar Jakarta akan menjadi motor pertumbuhan berikutnya bagi ekonomi digital Indonesia. Dia memandang perluasan akses layanan digital ke daerah di luar Jakarta dapat membuka peluang besar bagi masyarakat yang selama ini belum terlayani.

 

Dorong Pertumbuhan Ekonomi Digital

MMA Marketing Talk Indonesia 2026 di Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (16/7/2026). (Liputan6.com/Winda)
MMA Marketing Talk Indonesia 2026 di Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (16/7/2026). (Liputan6.com/Winda)

"Para pemimpin dan pemilik bisnis harus benar-benar melihat adopsi teknologi, skala, kepercayaan yang dibantu pembangunannya, dan melampaui batas-batas Jakarta karena populasi yang belum terjamah," kata Rohit.

Dia menegaskan bahwa kelompok masyarakat yang belum tersentuh layanan perbankan maupun akses terhadap kebutuhan dasar sebagai peluang sekaligus tantangan bagi pelaku industri. Rohit optimistis potensi itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. 

"Jika anda dapat membantu menjangkau mereka, menjembatani kesenjangan menggunakan pendidikan, teknologi, dan fintech, itu dapat membantu menyelesaikan titik-titik kesulitan yang dialami konsumen," tandasnya. 

Makna Kecerdasan Marketing

Dalam salah satu keynote sesi pagi, Roy Nugroho, Director of Commercial di Grab Indonesia, mengajak para delegasi untuk memikirkan ulang makna sesungguhnya dari kecerdasan marketing. Dalam sesi bertajuk 'Rethinking Intelligence for Marketing Growth', Roy berpendapat bahwa nilai sejati dari kecerdasan terletak pada penerapannya, bukan sekadar informasinya, dan bahwa data yang lebih banyak tidak otomatis menghasilkan marketing yang lebih baik; keunggulan justru datang dari bagaimana marketer menerapkan apa yang sudah mereka ketahui.

Ia memaparkan bagaimana GrabAds memanfaatkan apa yang disebutnya Ecosystem Intelligence, menghubungkan sinyal-sinyal keseharian tentang bagaimana orang bergerak, makan, berbelanja, menemukan, dan memutuskan di berbagai titik kontak untuk mengungkap peluang yang terlewat ketika setiap perjalanan konsumen dilihat secara terpisah.

Dari fondasi tersebut, Roy memaparkan tiga cara merek dapat memanfaatkan kecerdasan ini. Melalui Integrated Commerce, marketer dapat menemukan momen keseharian ketika pelanggan sudah memiliki waktu dan perhatian, lalu menghubungkan pengalaman tersebut langsung dengan jalur pembelian yang sederhana, menutup celah bagi produk yang perlu dicoba sebelum dibeli.

Gamified Commerce memanfaatkan ritual dan kebiasaan budaya yang sudah dihargai masyarakat, mengubah kebiasaan yang familiar menjadi pengalaman commerce yang memberi imbalan, mendorong pelanggan untuk kembali, tanpa merek harus menciptakan permainan baru dari nol.

Melalui Affiliate Networks, merek dapat mengaktifkan suara-suara terpercaya yang sudah dekat dengan pelanggan, termasuk pengemudi, tim garis depan, mitra, dan komunitas, memberi mereka cara yang sederhana, mudah dibagikan, dan terukur untuk merekomendasikan sebuah merek, mengubah interaksi manusia sehari-hari menjadi kanal akuisisi yang dapat diukur. 

Setiap dari lima poin utama, menurut Roy, kembali pada satu pertanyaan yang sama: apakah marketer benar-benar memanfaatkan kecerdasan yang mereka miliki, sebab yang menentukan bukanlah apa yang Anda ketahui, melainkan apa yang Anda lakukan dengan apa yang Anda ketahui.

Rekomendasi