Berlangsungnya perang dengan Iran kembali memunculkan kekhawatiran atas dampak jangka panjang cedera otak traumatis atau traumatic brain injury (TBI) pada tentara Amerika Serikat. Konflik tanpa batas akhir yang jelas ini telah melukai hampir 700 anggota militer AS akibat serangan drone dan rudal terhadap pangkalan di Timur Tengah serta pertempuran lainnya. Menurut sejumlah pejabat militer, sebagian besar di antaranya mengalami TBI dan kembali bertugas.
Bulan lalu, juru bicara utama Pentagon Sean Parnell menyebut sebagian besar cedera yang terjadi dalam rentang dua pekan sebagai "gegar otak ringan". Klasifikasi itu menegaskan banyak kasus yang tampak ringan di awal, namun tak serta-merta memberi kepastian tentang dampak jangka panjangnya.
Kisah veteran Korps Marinir Joe Shearer menjadi gambaran nyata. Dua insiden ledakan pada 2005 di Irak baru bertahun-tahun kemudian dihubungkan dengan TBI yang ia alami. Kini berusia 40 tahun dan tinggal di Colorado Springs, Colorado, ia masih berjuang dengan pusing, migrain, hingga kesulitan mengingat tugas harian dan tanggung jawab sebagai suami serta ayah.
Advertisement
Pola Perang Baru: Drone dan Ledakan Dekat Kepala
Pasukan AS kini menghadapi pola peperangan yang berbeda dalam konflik dengan Iran. Penggunaan drone membuat ledakan terjadi lebih dekat dengan kepala prajurit, berbeda dari bom pinggir jalan dan alat peledak rakitan yang lebih lazim pada perang di Irak dan Afghanistan.
Di sisi lain, sejumlah anggota parlemen Partai Demokrat menyerukan penyelidikan atas perawatan yang diterima tentara AS setelah serangan drone Iran di Kuwait pada awal perang yang menewaskan enam prajurit. Senator Wisconsin Tammy Baldwin pada Rabu mendesak militer merilis hasil penyelidikan serangan 1 Maret tersebut.
"Saya berbicara langsung dengan warga Wisconsin yang mengalami cedera otak traumatis akibat perang Presiden Donald Trump di Iran dan berminggu-minggu tidak mendapatkan pemeriksaan, apalagi perawatan khusus untuk cedera mereka," kata Baldwin dalam sebuah pernyataan.
Menanggapi sorotan itu, juru bicara Defense Health Agency Peter Graves menyampaikan melalui email bahwa "kebijakan yang berlaku adalah anggota militer menjalani pemeriksaan TBI." Para ahli menyebut militer AS telah mengalami kemajuan dalam pemeriksaan dan penanganan TBI, salah satu jenis cedera khas pada perang Afghanistan dan Irak.
Advertisement
Gegar Otak Ringan Bukan Selalu Sederhana
Gegar otak kerap disebut sebagai TBI ringan dan banyak orang pulih dalam hitungan pekan. Namun, sebagian lain bisa mengalami masalah selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, mulai dari sakit kepala, pusing, hingga gangguan daya ingat atau konsentrasi (sering disebut brain fog). Dokter belum memiliki cara untuk memprediksi siapa yang akan menghadapi dampak jangka panjang, memicu perdebatan medis tentang perlu tidaknya istilah "TBI ringan" tetap digunakan. Benturan berulang meningkatkan kemungkinan munculnya masalah menahun, termasuk chronic traumatic encephalopathy (CTE) yang dikenal pada sejumlah atlet NFL dan cabang olahraga lain.
Menurut Dr. David Okonkwo dari University of Pittsburgh, seseorang harus benar-benar pulih dari gegar otak sebelum kembali pada aktivitas yang meningkatkan risiko terkena benturan berikutnya. Selain itu, penelitian masih berjalan untuk memahami bagaimana mekanisme ledakan melukai otak dibandingkan benturan fisik langsung.
Dr. James Kelly, profesor emeritus neurologi di University of Colorado School of Medicine sekaligus kepala ilmuwan medis Invisible Wounds Foundation, menekankan bahaya gelombang ledakan bagi jaringan otak.
"Gelombang ledakan itu sendiri dapat menyebabkan cedera," kata Dr. James Kelly, profesor emeritus neurologi di University of Colorado School of Medicine sekaligus kepala ilmuwan medis Invisible Wounds Foundation, organisasi yang berfokus pada cedera otak akibat tugas militer.
"Ini merupakan cedera sel yang berbeda. Ledakan berbeda dengan cedera akibat benturan langsung di kepala," ujarnya.
Advertisement
Budaya Medan Tempur dan Diagnosis yang Tertunda
Shearer pernah terjatuh akibat ledakan mortir dan muntah saat bertugas di Irak. Beberapa bulan kemudian, bom pinggir jalan menghantam konvoi Humvee yang ditumpanginya. Gelombang kejut menerpa tubuhnya sebelum sakit kepala dan kesulitan tidur muncul selama berhari-hari.
"Selama kamu bisa bangkit dan kembali berpatroli, ya begitulah yang kamu lakukan," kata Shearer.
Dua ledakan itu tidak menimbulkan luka yang terlihat. Saat itu, petugas medis memprioritaskan rekan yang cedera lebih parah. Menurut Shearer, ada budaya di kalangan prajurit untuk tidak ingin dianggap lemah, sehingga keluhan sering disembunyikan.
"Kamu tidak ingin menjadi orang yang pergi ke unit kesehatan atau berkata, 'Oh, saya terluka,' karena kamu akan jauh dari timmu," kata Shearer.
Ketika pulang pada usia 19 tahun, Shearer menyangkal mengalami PTSD dan bahkan belum mengetahui apa itu TBI. Ia dihantui mimpi buruk, sulit tidur, dan sakit kepala. Pada awalnya, ia menggunakan narkoba untuk mengobati dirinya sendiri dan sempat mempertimbangkan bunuh diri. Ia kemudian mendapatkan bantuan untuk PTSD, namun butuh waktu bertahun-tahun sampai menyadari dirinya juga mengalami TBI—sesuatu yang ia sadari saat bekerja di Wounded Warrior Project dan melakukan pemeriksaan TBI pada sesama veteran.
Setelah didiagnosis dan menjalani perawatan, sejumlah masalah tetap bertahan, termasuk vertigo dan sensitivitas terhadap cahaya. Ia juga kerap melupakan percakapan penting dengan keluarganya.
"Saya tahu beberapa dari hal itu terdengar stereotip, tetapi bagi saya, rasanya berbeda. Tidak ada ingatan bahwa percakapan itu pernah terjadi," ujarnya.
Advertisement
Jalan Pemulihan: Dari Terapi Bicara hingga Adaptasi Otak
Masalah kehilangan ingatan juga dialami Frank Sonntag, veteran Angkatan Darat yang mengalami TBI akibat ledakan mortir di Irak pada 2004. Saat itu ia berusia 50-an dan sedang melatih pasukan cadangan. Ledakan terjadi sekitar 70 kaki atau 21 meter dari posisinya. Ia tidak menyadari telah mengalami cedera dan baru mencari pengobatan dua tahun kemudian, ketika sakit kepala dan brain fog kian memburuk. Kondisinya sempat parah: membutuhkan waktu 30 menit untuk menulis satu email dan rekan-rekannya menyebut ia berbicara satu kata setiap 10 detik. Ia juga sempat mempertimbangkan bunuh diri, dan baru mendapat diagnosis setelah tersesat saat mengemudi pulang.
Ahli saraf kemudian memberikan obat untuk mengatasi migrain, disertai sejumlah perawatan lainnya.
"Terapi bicara adalah salah satu hal terbaik yang saya dapatkan," kata Sonntag, yang kini berusia 75 tahun dan tinggal di Queen Creek, Arizona.
"Mereka mengajari saya cara melatih kata-kata yang saya ucapkan dan bagaimana menyusun kalimat kembali," ujarnya.
Kelly Parker, direktur layanan independen di Wounded Warrior Project, mengatakan sulit memprediksi perjalanan TBI pada tiap orang.
"Jika Anda melihat satu TBI, Anda telah melihat satu TBI," katanya.
Menurut Parker, pemeriksaan, penanganan dini, dan dukungan dapat membantu seseorang kembali menjalani kehidupan yang lebih normal. Terapi fisik, terapi bicara, dan terapi seni juga dapat membawa perbaikan.
"Masih banyak yang tidak kita ketahui tentang otak, tetapi satu hal yang kita tahu adalah otak dapat menyembuhkan dirinya sendiri," kata Parker.
"Kita tahu jalur saraf baru dapat terbentuk, dan kita benar-benar percaya bahwa otak dapat beradaptasi. Kita telah melihatnya terjadi," ujarnya.
Veteran Angkatan Darat Spencer Milo juga masih bergulat dengan migrain, kejang, dan mudah lupa bertahun-tahun setelah meninggalkan dinas militer. TBI pertamanya terjadi di Irak pada 2008 saat Humvee yang ditumpanginya menabrak tembok untuk menghindari tembakan. Cedera kedua dialaminya akibat ledakan bom bunuh diri di Afghanistan pada 2011.
"Saya punya rekan sesama anggota militer yang bahkan berada bersama saya pada hari-hari itu, dan mereka berkata, 'Kawan, kenapa kamu tidak bisa melupakannya saja?'" kata Milo, 41 tahun, dari Parker, Colorado.
"Saya benar-benar berharap sesederhana itu. Ini sulit karena ketika sesuatu tidak bisa dilihat, sulit untuk percaya bahwa itu benar-benar ada," ujarnya.
