Babi dan monyet serang lahan, petani di Banyumas tak berkutik

Petani takut diserang karena badan monyet dan babi besar-besar.

Chandra Iswinarno
Oleh Chandra Iswinarno - Reporter
Babi dan monyet serang lahan, petani di Banyumas tak berkutik
monyet. ©2012 Merdeka.com/Slamet Nusa

Warga desa pinggir alas yang berada di kawasan selatan Gunung Slamet resah. Sebab, selama lima bulan terakhir lahan pertanian palawija kerap diserang kawanan babi hutan dan monyet yang turun dari hutan.Salah satu petani di Desa Melung Kecamatan Kedungbanteng Banyumas, Ahmadin (60) mengatakan, sejak lima bulan terakhir kerap melihat adanya kawanan babi hutan yang merusak lahan palawija di dekat hutan. "Mereka sepertinya turun karena di hutan sudah tidak ada lagi makanan. Selain itu, kawanan babi hutan selalu turun bergerombol hingga 12 ekor," katanya, Rabu (25/9).Kawanan babi hutan tersebut, menurut Ahmadin, turun saat pagi hari mulai pukul 05.00-08.00 WIB dan di waktu sore sekitar pukul 17.00-19.00 WIB. Fenomena turunnya hewan hutan tersebut, diakuinya, baru kali pertama ini terjadi di desanya. "Selama ini saya belum pernah mendengar adanya babi hutan turun dari alas, baru tahun ini saja saya melihat dan mendengar cerita dari petani lainnya," paparnya.Selain itu, perangkat Desa Melung, Narwin mengungkapkan, kawanan babi hutan yang turun ternyata juga sudah berani menampakkan diri saat malam hari. Ia mengaku pernah melihat gerombolan babi hutan berjalan di pinggir jalan utama desanya. "Kalau malam, saya sering lihat babi hutan sudah masuk ke permukiman warga. Biasanya bergerombol dan besar-besar," jelasnya.Selain babi hutan, kawanan monyet juga turun bergerombol mendekati lahan perkebunan palawija milik warga. Menurut salah satu perangkat Desa Melung, Margino, kawanan monyet tersebut sudah tidak takut lagi kepada petani. "Sewaktu saya sedang mencari rumput di dekat alas, kawanan monyet tersebut terlihat menyerang lahan pertanian warga. Saat kami coba usir, mereka justru bisa balik menyerang kami," ujarnya.Diakuinya, monyet yang turun agak berbeda dengan jenis dengan kebanyakan monyet lainnya. Lebih jauh, Margino memprediksi turunnya satwa gunung tersebut disebabkan minimnya pakan yang tersedia di hutan dan juga rusaknya konservasi hutan. "Warnanya hitam dan berbadan besar. Kami agak takut juga, kalau-kalau mereka menyerang warga yang mencoba mengusirnya," paparnya.Ketua Sub Stasiun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Sufiriyanto mengatakan, serangan babi hutan merupakan siklus yang alami. Babi hutan yang turun mencari makanan di sekitar pemukiman warga, menurutnya, karena adanya kerusakan ekosistem hutan. "Faktor cuaca yang tidak menentu dan air tanah yang cepat hilang mengakibatkan persediaan makanan makin menipis," jelasnya.Ketika persediaan makanan di dalam hutan sudah habis, lanjutnya, insting hewan tersebut akan mencari makan sampai ke permukiman yang terdekat. Selain itu, siklus pada Agustus-November merupakan masa babi betina sedang hamil. Secara naluri, kawanan babi hutan akan mencari persediaan bagi anak babi yang akan lahir setelah usia kehamilan mencapai 16,5 minggu.Sufiriyanto memprediksikan, serangan koloni babi tersebut akan mereda saat musim hujan tiba. Sebab, bahan makanan yang dibutuhkan babi hutan ini mudah dicari di dalam alas.

Rekomendasi