Hidayat, Anis Matta atau 'kuda hitam'?

"Sebelum jadi presiden PKS, Tifatul (Sembiring) dulu cuma Korwil PKS di Sumatera."

Laurencius Simanjuntak
Oleh Laurencius Simanjuntak - Reporter
Hidayat, Anis Matta atau 'kuda hitam'?
Hidayat-Anis. ©2013 Merdeka.com

Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang baru pengganti Luthfi Hasan Ishaaq akan diumumkan selepas Salat Jumat ini. Dari sekian nama, Hidayat Nur Wahid dan Anis Matta adalah yang paling berpeluang. Namun, tak tertutup kemungkinan ada 'kuda hitam' yang bakal menyodok menjadi pimpinan partai dakwah itu.Pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanuddin Muhtadi, mengatakan PKS punya sejarah memajukan 'kuda hitam' untuk orang nomor satu di partai dakwah itu."Sebelum jadi presiden PKS, Tifatul (Sembiring) dulu cuma Korwil PKS di Sumatera. Karena Sumatera menghasilkan suara banyak bagi PKS, dia yang dipilih," kata Burhanuddin saat berbincang dengan PulseFeed, Jumat (1/2).Burhanuddin menyebutkan, Nur Mahmudi Ismail yang terpilih menjadi Presiden Partai Keadilan (PK) - nama sebelum PKS - periode 1998-2000, juga bisa dikatakan 'kuda hitam'."Karena citra PK saat itu terlalu Saudi, Hidayat yang tengah bersinar tidak terpilih. Maka dipilih Nur Mahmudi yang jebolan Phd dari AS. Alasannya semudah itu," jelas Burhanuddin yang tesisnya di Australian University khusus meneliti PKS.Oleh karena itu, kata Burhanuddin, jika ada nama di luar Hidayat dan Anis, seperti Al-Muzzammil Yusuf, hal itu bisa saja terjadi. "Terlebih Al-Muzzammil orang yang lempeng, lurus dan relatif bisa diterima internal," ujarnya.Soal peluang Hidayat atau Anis, kata Burhanuddin, peluang keduanya masih berimbang untuk menjadi Presiden PKS. Hidayat unggul dalam hal rekam jejak yang relatif sepi dari kontroversi. Sementara Anis, pernah masuk pusaran isu korupsi di Badan Anggaran DPR, namun dia sangat dekat dengan Majelis Syuro, forum yang memilih Presiden PKS."Anis tiga kali jadi sekjen dan sangat dekat dengan Hilmi (Aminuddin, Ketua Majelis Syuro). Dan faktor Hilmi tidak bisa dilepaskan dari keputusan Majelis Syuro," ujarnya.

Rekomendasi