Sejak awal mengusung pasangan Wiranto dan Hary Tanoesoedibjo sebagai capres-cawapres, Partai Hanura gagal meraih suara yang signifikan dalam pemilu legislatif. Meski perolehan suara naik dari pemilu sebelumnya, Hanura sulit untuk memaksakan WIN-HT menjadi salah satu pasangan di pilpres 2014.Baik Wiranto maupun Hary Tanoe pun tidak dilirik sebagai cawapres dari kandidat capres lain. Opsi realistis yang bisa dilakukan sekarang hanyalah mencari kawan untuk koalisi.Sempat disebut sudah deal dengan Golkar untuk mengusung Aburizal Bakrie , Hanura membantahnya dan belakangan mengindikasikan merapat ke PDIP . Berbagai alasan diungkapkan salah satunya bosan menjadi oposisi dan ingin terlibat dalam pemerintahan mendatang.Hasil rapimnas Hanura menyerahkan sepenuhnya keputusan koalisi di tangan Ketua Umum Wiranto . Berikut indikasi-indikasi Partai Hanura ingin bergabung dengan PDIP dalam koalisi di pilpres mendatang:
Advertisement
Lelah jadi oposisi
Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Hanura Yudi Chrisnandi mengakui partainya lelah terus menjadi oposisi. Atas alasan itu, dia berpandangan perlu Hanura perlu berkoalisi dengan partai yang diprediksi menjadi pemenang pilpres."Satu hal yang jadi pedoman para kader, kita cukup lelah jadi oposisi. Karena menjadi oposisi tidak memberi peran politik yang cukup berarti, mungkin saja dengan berkoalisi Hanura punya kiprah untuk kinerja terhadap kesejahteraan rakyat," ungkap Yudi.Secara pribadi, Yudi memandang Hanura perlu mendekatkan diri dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai pemenang Pemilu. Sebab, ia meyakini PDIP telah memiliki format yang lebih baik dalam membangun pemerintahan yang akan datang."Secara pribadi, baiknya kita bergabung partai pemenang pemilu yang sudah punya format pemerintahan ke depan. Pilihannya adalah Jokowi. PDIP dan NasDem adalah koalisi yang pasti, lainnya kan belum pasti. Koalisi yang pasti hanya PDIP dan NasDem, dengan begitu mungkin Hanura bisa punya peran," lanjut Yudi.
Advertisement
Wiranto ingin Hanura gabung di pemerintahan mendatang
Selama lima tahun Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) menjadi oposan bagi pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Akan tetapi, posisi tersebut ternyata belum memberikan membuahkan kepercayaan dari masyarakat.Melihat itu, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto memandang perlunya perubahan pandangan dari para kader partai, salah satunya banting setir dari oposisi dan masuk ke dalam pemerintahan."Kita berada di luar setgab yang memback-up pemerintah. Waktu itu Partai Hanura akan berkoalisi dengan kebijakan yang pro rakyat dan melakukan langkah-langkah kekuatan berkoalisi. Kalau ternyata kebijakan itu tidak menguntungkan rakyat, kita minta menjadi oposan. Lima tahun kita sudah melaksanakan itu," ujar Wiranto saat membuka Rapimnas Partai Hanura di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (6/5).Jika bergabung dengan pemerintahan mendatang, Wiranto menyatakan Hanura tidak akan lagi berpangku tangan atau pun menjadi penonton. Partai juga akan terlibat dalam keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan program pro rakyat."Kita akan mencoba membanting setir, melakukan langkah-langkah masuk dalam sistem, berkoalisi. Tidak akan berpangku tangan, tidak akan menjadi penonton," tandasnya.
Advertisement
Wiranto lobi Jokowi sampai SBY
Ketua Umum Partai Hanura Wiranto sudah melakukan lobi politik kepada sejumlah elite partai. Tidak hanya Jokowi, Wiranto juga sudah bertemu dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono membahas soal koalisi."Semua sudah. Pak Prabowo, Pak Jokowi, Pak Hatta Rajasa, Pak Anis Matta, bahkan Pak SBY saya temui," kata Wiranto sebelum membuka Rapimnas Hanura di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (6/5).Dia menambahkan, secara khusus Wiranto sudah melakukan komunikasi dengan Ical lebih dari sekali. "Sudah dua kali," ujarnya.
Advertisement
Merapat ke capres yang berpeluang menang
Ketua DPP Partai Hanura Saleh Husin mengaku seringkali mendampingi Wiranto untuk menjalin komunikasi dan bertemu dengan elit-elit partai politik. Saleh mengatakan, ketua umum Partai Hanura telah bertemu dengan Prabowo Subianto dan Jokowi."Kita bertemu dengan Prabowo, Pak Wiranto bertemu dengan Jokowi juga bertemu. Dua hari lalu juga ketemu dengan Hatta Rajasa," kata Saleh kepada wartawan di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (6/5).Menurut Saleh, soal keputusan arah koalisi baru akan diputuskan setelah Rapimnas yang bakal digelar hari ini. Dia menambahkan, Wiranto seringkali berpesan agar arah koalisi Hanura ke depan tidak mubazir."Yang utama Pak Wiranto menegaskan, turut koalisi harus memenangkan pertarungan. Jangan hanya sekadar ikut-ikutan. Untuk itu perlu ada analisa sehingga final," jelasnya.Pertemuan-pertemuan dengan capres-capres partai lain tidak ada pembicaraan seputar bagi-bagi menteri. "Dengan semua kita belum bicara soal sharing kekuasaan. Kami tidak membicarakan portofolio soal menteri," tandasnya.
Advertisement
Bantah deal dengan Golkar
Ketua DPP Partai Hanura Saleh Husin mengatakan, partainya masih terus melakukan komunikasi politik dengan siapapun. Hal ini dilakukan untuk menyamakan pandangan antarpartai untuk membangun koalisi ke depan."Semuanya masih cair belum menjurus ke satu partai tertentu. Pak Wiranto selaku ketua umum juga ingin mendapat masukan dari teman pengurus yang lain agar keputusannya yang diambil nanti adalah putusan yang valid," ujar Saleh kepada PulseFeed, Kamis (17/4).Dia membantah sudah bersepakat dengan Partai Golkar untuk membangun koalisi bersama mendukung Aburizal Bakrie sebagai capres. Dia menilai, satu atau dua minggu ke depan, sikap resmi partai baru akan ditentukan.Begitu juga soal kursi cawapres, menurut dia, Hanura tidak hanya ingin duduk di istana. "Hanura tentu ingin berkoalisi dengan partai yang dapat memenangkan pertarungan jadi tidak sekedar ikut-ikutan maju dan sekali lagi semua masih cair," imbuhnya.
