Picture First
-
Jateng •Melihat Pohon Raksasa Walitis di Hutan Rasamala, Tahan dari ApiPohon Walitis tampak gagah meski usianya sudah menginjak usia ribuan tahun. Tak terlihat rapuh, justru semakin kokoh. Pohon Walitis di Hutan Rasamala memiliki tinggi mencapai 30 meter dan lingkar batang 7,5 meter. Untuk memeluk batang pohon ini diperlukan enam orang dewasa yang saling tautan sambil merentangkan tangan
-
Jateng •Keunikan Tari Soreng Magelang, Citra Diri Masyarakat Lereng MerbabuKesenian tradisional Tari Soreng lahir dari balik kabut gunung. Tari Soreng merupakan jati diri masyarakat Lereng Merbabu. Memuja keperkasaan alam yang masyarakatnya didominasi sebagai petani.
-
Jabar •Geliat Pemahat Cobek Cidadap, Alat Masak Melegenda dari Batu VulkanikCobek sendiri merupakan alat yang digunakan manusia sejak lama. Hingga saat ini cobek masih bertahan hingga saat ini, dan mendominasi sebagian besar dapur rumah tangga di Indonesia.
-
Jateng •Semerbak Harum Hio Swa, Dupa Tradisional Mranggen yang Kian LangkaSemerbak wangi dupa terasa saat memasuki perkampungan pembuat dupa di Mranggen. Di sinilah para pengrajin Hio Swa tradisional masih bertahan. Di tengah gempuran produk impor dan mesin pabrik.
-
Sumut •Mengunjungi Masjid Islamic Center Lhokseumawe, Ikon Kota Petro DollarMasjid Islamic Center merupakan salah satu sarana ibadah bagi mayoritas umat muslim di Kota Petro Dollar. Bangunan seluas 16.475 m2 yang di dominasi warna keemasan merupakan masjid termegah di Kota Lhokseumawe.
-
Sumut •Layangan Janggan, Naga Sakral Dewa Layangan BaliLayangan Janggan bak dewa layangan. Dengan panjang ekor yang menjuntai, layangan Janggan berbentuk naga ini dianggap sebagai layangan paling sakral saat Melayangan. Karya terbang itu dipercaya memiliki tulang dan organ tubuh selayaknya manusia, bahkan memiliki roh.
-
Jateng •Umbul Jumprit, Air Suci yang Tak Pernah Surut dan Tradisi Buang Celana DalamAir di Umbul Jumprit memang bukanlah air biasa. Bagi Umat Budha, air Umbul Jumprit dianggap sebagai air suci pembersih jiwa manusia. Air ini juga sering digunakan peziarah untuk kungkum. Uniknya, seusai kungkum para peziarah akan membuang celana dalam.
-
Sumut •Mengenal Tau-Tau, Aksesori Replika Orang Meninggal di Tana TorajaRaut wajah patung Tau-Tau sekilas nampak menyeramkan. Namun inilah wujud rupa asli dari replika orang Toraja yang telah meninggal. Setiap orang Toraja yang meninggal akan dibuatkan patung ini, aturannya mengikuti ketentuan yang ada dalam Aluk TodoloSetiap orang Toraja yang telah meninggal akan dibuatkan replika.
-
Sumut •Mengunjungi Rumah Sepatu di Palu, Tingginya Capai 7,5 MeterIde rumah sepatu ini bak pembuktian kesuksesannya. Dulunya, Sudirman pernah bekerja di perusahaan kontraktor di Makassar. Ia mendapat perlakuan kasar, ditendang oleh atasannya dengan sepatu proyek. Bentuk sepatu proyek itu pun melekat dalam benaknya. Ia bertekad saat sukses akan membuat rumah berbentuk sepatu proyek.
-
Jateng •Tradisi Bersih Sendang Mudal Grobogan, Sumber Air Utama hingga Petilasan Para WaliSendang merupakan mata air alami yang mempunyai genangan air. Setiap sendang selalu memiliki sumber mata air. Tak jarang, wilayah rawan kekeringan memanfaatkan mata air sebagai sumber kehidupan utama mereka. Sama halnya dengan Sendang Mudal di grobogan yang didominasi tanah kapur.
-
Jabar •Sisa Kegemilangan Bioskop Jadul Karawang, Primadona Era 80anGemerlap lampu dulunya menyinari tempat ini, namun kini lampunya padam. Poster film besar tak akan nampak lagi. Dulu bangunan ini adalah primadona, berjaya era 80-an harus tutup 2019 lalu. Kini, Karawang Theatre meninggalkan sisa kegemilangannya.
-
Sumut •Melihat Seluk Beluk Rumah Adat Aceh, Unik Dibangun Tanpa PakuDengan bentuk yang lebar dan tinggi, menariknya Rumoh Aceh dibangun tidak satu pun menggunakan paku. Bahkan jenis material bangunan di era modern saat ini. Semua struktur bangunan rumah adat Aceh terbuat dari alam.
-
Sumut •Noken Papua, Rajutan Alam yang Kaya MaknaLebih dari sebuah tas, noken aksesoris khas Tanah Papua ini sudah sangat menyatu dengan kehidupan sehari-hari warga Papua. Tas rajut ini juga memiliki makna yang mendalam. Salah satu filosofinya menyebutkan Noken adalah simbol kehidupan yang baik dan kemakmuran.
-
Sumut •Turun Temurun Menganyam Tikar Purun dari Lahan GambutPemanfaatan rumput gambut dapat dijumpai berkat adanya kerajinan Tikar Purun. Kerajinan anyaman rumput gambut ini telah lama menjadi komoditas harian bagi masyarakat Kalimantan Selatan. Secara turun temurun dipertahakan dengan ciri khas warna yang natural.
-
Jateng •Aksi Kocak Ali Akbar, Pak Ogah Nyentrik Bermasker GalonDengan kepala yang tertutup galon, Ali membantu mengatur lalu lintas di persimpangan jalan. Menjadi andalan sekaligus penghibur para pengguna yang melintas.
-
Jabar •Menantang Nyali Bergelantungan di Ketinggian Gunung Hawu, Ekstrem BangetObjek wisata di Bandung ini lain daripada yang lain. Wisatawan akan ditantang keberaniannya berada di ketinggian Gunung Hawu. Bergelantungan mengandalkan tali yang melintang di kedua puncak bebatuan. Perasaan nano nano yang cukup langka untuk didapatkan.
-
Sumut •Aksi Kesatria Baja Hitam Jualan Dawet, Pahlawan Dahaga Viral di Jagat MayaSeperti halnya masyarakat era 80 an, Wahyu juga menggandrungi Kesatria Baja Hitam. Kecintaannya akan Kamen Rider mengantarkannya kepada ide gagasan berjualan Es Dawet. Ia, dawet, dan kostum superheronya menjadikan usahanya viral di jagat maya.
-
Jateng •Menyambangi Tugu Titik Nol Pulau Jawa, Sering Jadi Tempat SemediDari tanah kecil di Desa Soropadan yang berbatasan dengan Desa Kupen, Kecamatan Kaloran, terdapat sebuah tugu kecil yang menandai titik tengah Pulau Jawa. Tugu kecil bernama Sepuser ini menjadi titik nol kilometer Pulau Jawa seluas 128.297 km² ini.
-
Sumut •Manopeng, Tari Banjar Mistis Memanggil Roh HalusSekilas memang nampak sama seperti tari topeng di daerah lain, namun yang menjadi ciri khas Manopeng jiwanya tak sadarkan diri. Seseorang yang sebelumnya kaku tak bisa menari pun dalam tarian ini bisa lihai menari.
-
Sumut •Serunya Pacuan Kuda Paku Alam Cup, Ajang Balapan Kuda Se-NusantaraPacuan kuda menjadi perhelatan yang selalu digelar oleh Pura Pakualaman Yogyakarta. Keberadaannya tak lain dari kegemaran sang raja perihal berkuda. Dikemas dalam gelaran Paku Alam Cup yang diikuti oleh kuda-kuda tangguh seluruh Indonesia
