Perang tarif seluler pernah pecah pada 2008-2010. Saat itu, sejumlah operator kecil seperti Mobile-8 Telecom, Bakrie Telecom, Natrindo Telepon Seluler, dan Hutchison CP berteriak untuk menghentikan perang tarif karena ternyata revenue yang mereka kantongi tak bisa menutupi cost yang keluar. Namun bagai buah simalakama, sebagai operator baru, mereka harus mendapatkan pelanggan sebanyak-banyaknya agar bisa bersaing dengan operator besar yang lebih mapan. Jalan satu-satunya adalah menurunkan tarif meski kemudian penggelaran jaringan baru menjadi terhambat.Pernyataan President Director PT XL Axiata Tbk yang menyatakan akan kembali menerapkan tarif unlimited diprediksi memicu kembali perang tarif telekomunikasi, terutama di segmen data.Memang cukup mengherankan, karena sebelumnya Hasnul mengatakan sepanjang 2013 perusahaannya merugi karena terlalu murahnya tarif data XL sehingga menyenangkan masyarakat meski tidak membuat senang pemegang saham.Dulu, XL juga yang mempelopori perang tarif dengan kampanyenya yang terkenal, yaitu tarif suara Rp 0,1 per detik meski dengan ketentuan yang cukup rumit dan membingungkan pelanggan.Keunggulan frekuensi dari XL, ditambah jumlah pelanggan yang tidak sebanyak Telkomsel, membuat anak usaha Axiata itu sepertinya percaya diri pada performa jaringannya bila tarif unlimited diterapkan.Ini memang yang menjadi salah satu faktor kekhawatiran Telkomsel pada merger XL-AXIS, karena XL bisa lebih leluasa berkreasi dengan layanan dan tarif data, apalagi telekomunikasi masa depan adalah telekomunikasi data yang menembak segmen pelanggan menengah ke atas dengan average revenue per user (ARPU) di atas Rp 200 ribu."Dengan pipa yang lebih besar, pelanggan bisa memanfaatkannya untuk mengakses layanan data unlimited," kata Hasnul.
Godaan perang tarif telekomunikasi juga datang dari operator medioker seperti Smartfren dan Tri yang juga jor-joran dalam memberikan promosi layanan data membuat operator tiga besar mesti berfikir ulang untuk tidak ikut serta dalam perang tarif data.Apalagi, layanan suara dan SMS yang selama ini menjadi andalan operator tiga besar tersebut terus menurun dan bahkan menurut sejumlah direksi operator besar, kisarannya sudah fifty-fifty alias 50 persen banding 50 persen.Tarif layanan data memang seperti bola liar, karena belum diatur secara spesifik oleh Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).Yang paling diuntungkan tentu over the top (OTT), karena dengan tarif layanan data yang murah, maka layanannya akan laku didownload oleh pengguna seluler di Indonesia, sedangkan operator hanya bisa gigit jari setelah jaringannya banyak digunakan aplikasi asing tanpa kompensasi yang berarti.Namun, dari sisi pelanggan, perang tarif layanan data tentunya sangat menguntungkan dalam jangka pendek, sedangkan dalam jangka panjang, operator tentu tak bisa bertahan lama dan akhirnya kualitas layanannya menurun. Bila sudah demikian, maka pelanggan juga lah yang rugi.
