Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Wahyu Hidayat mengapresiasi masuknya enam perusahaan BUMN dalam daftar 2.000 perusahaan paling untung di dunia versi Forbes. Menurutnya, ini membuktikan perusahaan negara bisa bersaing dengan swasta.
"Selama ini (BUMN) diidentikkan kalah dengan swasta. Ternyata tidak, Kita tidak kalah dengan Unilever atau sebagainya," ungkap Wahyu saat ditemui di Gedung Kementerian BUMN, Jumat (20/4)
Wahyu mengaku, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Menteri BUMN Dahlan Iskan diyakini menjadi stimulus peningkatan kinerja perusahaan-perusahaan pelat merah. Sebagai orang nomor 1 di Kementerian BUMN, Dahlan memberi kebebasan masing-masing perusahaan untuk berkembang. Jika diperlukan pertumbuhan anorganik melalui akuisisi, Dahlan pun mendukung.
"Policy Pak Dahlan, kalau mereka ingin besar kenapa tidak. Kalau mau akusisi, kenapa tidak akusisi. Perluas akusisi. Kalau jelek diperbaiki. Kalau sudah baik, semakin baik dan kalau sudah baik banget, jadi champion," pungkasnya.
Sebelumnya, Forbes melansir 2.000 perusahaan yang paling untung di dunia. Sepuluh perusahaan asal Indonesia masuk di dalamnya. Dari 10 perusahaan tersebut, enam diantaranya merupakan perusahaan pelat merah.
Enam perusahaan BUMN tersebut antara lain:
Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang mempunyai laba sebesar USD 1,7 miliar.
Bank Mandiri dengan laba USD 1,6 miliar.
Telkom Indonesia dengan laba USD 1,3 miliar.
Bank Negara Indonesia (BNI) dengan laba USD 0,6 miliar.
Perusahaan Gas Negara dengan laba USD 0,7 miliar.
Semen Gresik berada pada posisi 1674 dengan laba USD 0,4 miliar
