Proyek pembuatan alat pemantau konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi atau RFID mengalami kendala. Rekan kerja Pertamina dalam pengadaan yaitu PT Inti terlilit masalah keuangan.
Dalam kondisi seperti ini, Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan mengatakan tidak akan memberikan uang muka kepada PT Inti dalam pengadaan sistem monitoring pengendalian BBM subsidi tersebut.
"Kami tidak akan memberikan panjar (uang muka), sebab sesuai dengan STK (Sistem Tata Kerja) perusahaan," ucap Karen dijumpai di Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (18/9).
Menurut Karen, saat ini, PT Inti tengah menjajaki pinjaman dengan beberapa bank. Namun, dia tidak mengetahui identitas perbankan tersebut.
"Itu saja masalahnya dan kami harapkan mereka bisa bekerja sama dengan bank," harap karen.
Namun demikian, Karen tidak akan mengganti rekan kerjanya dalam pembuatan alat ini. Meski mengalami kendala keuangan, Karen tidak mau proyek tersebut molor dari waktu yang telah ditentukan.
"Namun, kami masih menunggu keputusan dari pemegang saham seperti apa bentuknya," tegasnya.
Pertamina menjadwalkan pemasangan RFID dilakukan di 276 SPBU dan hampir 10 juta kendaraan baik mobil, motor dan angkutan umum di Jakarta pada Juli 2013 kemarin. Begitu juga dengan 570 SPBU di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat dijadwalkan bersamaan dengan wilayah Jakarta.
