PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) saat ini tengah mengalami krisis finansial dan memiliki utang sebesar Rp 7,3 triliun. Rinciannya, utang pemerintah dalam bentuk penerusan pinjaman (subsidiary loan agreement) Rp 2,4 triliun, utang ke BUMN lain Rp 2,7 triliun, utang pajak Rp 873 miliar.
Kemudian, utang ke swasta Rp 1,01 triliun, utang ke karyawan dan dana pensiun Rp 282 miliar, dan utang ke pemerintah daerah Rp 62 miliar.
Alhasil, Merpati menutup operasinya. Ini membuat pegawai Merpati menderita, karena sudah tak mendapat gaji sejak Desember 2013.
Situasi berubah begitu sempurna sejak tiga bulan lalu. Pilot dan pramugari Merpati yang biasa menerima bayaran puluhan juta rupiah, harus tersadar bahwa tidak ada pemasukan sepeser pun yang diterima dari Merpati.
Di sisi lain, asap dapur harus tetap mengebul, seperti hari-hari sebelum bencana finansial itu datang. Lalu apa yang bisa dilakukan pegawai Merpati?
Advertisement
Mengadu ke Dahlan Iskan
Berbagai cara dilakukan pegawai Merpati untuk mendapatkan haknya yang sudah tiga bulan tidak dipenuhi perusahaan. Termasuk, mendatangi Menteri BUMN Dahlan Iskan, kemarin.
Sayang, puluhan pilot yang mewakili seluruh pegawai Merpati harus kecewa lantaran Dahlan Iskan enggan menemui. Mantan dirut PLN tersebut hanya mengutus Deputi Infrastruktur bisnis Kementerian BUMN Wahyu Hidayat untuk bertemu para pilot Merpati.
Pertemuan terjadi pukul 10.00 WIB. Apes bagi pilot Merpati, pertemuan yang sudah dinanti lama itu tidak menghasilkan apa-apa.
"Keputusan belum ada karena tidak ketemu langsung Menteri BUMN. Pesan-pesan kita akan disampaikan oleh Deputi kemudian akan diolah oleh Menteri BUMN," ujar Sekjen Asosiasi Pilot Merpati (APM) Adhitya Priyo.
Advertisement
Meminta bantuan Kemenakertrans
Jauh sebelum menyambangi Kementerian BUMN, ada jalan lain yang sudah ditempuh oleh Forum Pegawai Merpati (FPM). Mengadu ke Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans).
Direktur Pencegahan dan Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Kemenakertrans Sahal Sinurat yang ditemui FPM dua pekan lalu hanya menyarankan agar persoalan gaji tersebut harus diselesaikan secara kekeluargaan.
Pasalnya, persoalan tersebut meruncing karena tidak adanya komunikasi antara petinggi Merpati dengan pegawainya.
"Apakah bayar sesuai tepat waktu? Tapi sesuai undang-undang ketenagakerjaan wajib dilakukan pembayaran. FPM dapat memahaminya, kita mencoba memfasilitasi persoalan ketenagakerjaan dirundingkan secara bipartit. Komunikasi secara efektif."
Advertisement
Melamar ke maskapai lain
Direksi Merpati Nusantara Airlines (MNA) memiliki dua solusi untuk para pilot maskapai tersebut mendapatkan gaji. Yakni, memberi kesempatan kepada para pilot melanjutkan karir di maskapai penerbangan lain (people to company).
Kemudian, merekomendasikan para pilot kepada maskapai penerbangan lain (company to company). Kedua solusi tersebut hanya bersifat sementara, selama Merpati belum mampu menggaji mereka.
Ketika kondisi keuangan Merpati sudah stabil, para pilot yang berada di luar perusahaan bakal dipanggil kembali.
"Kita beri kesempatan untuk terbang ke maskapai lain tapi tetap status karyawan," ujar Sekretaris Perusahaan Merpati Riswanto, saat ditemui di Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (3/3).
Menurut Riswanto, sudah ada pilot Merpati yang menempuh dua solusi tersebut. Kendati demikian, diakuinya, ada juga pilot Merpati yang mengundurkan diri. "Kalau itu saya nggak pegang datanya. Tanya langsung saja ke bagian SDM," ucapnya.
Advertisement
Berjualan
Selepas Merpati kolaps, pilot veteran M. Fadjarudin (58) tinggal mengandalkan pendapatan dari usaha katering. Dari bisnis itu, dia mendapatkan Penghasilan Rp 1,9 juta per bulan. Jauh dari gaji Rp 43 juta yang biasa diterimanya setiap bulan dari Merpati.
"Saya menawarkan makanan-makanan yang dibantu dibuat oleh istri saya lalu dijual ke sekolah cucu saya, saya bawa kesitu untuk dijual. Ada juga yang telepon, sms untuk membeli makanan dari saya. Jadi saya cari makan dari situ. Ya katering kecil-kecilan lah," ceritanya, beberapa waktu lalu.
Meski sudah pensiun, keahlian Fadjarudin masih dibutuhkan Merpati sehingga menjadi pilot kontrak. Saat masih aktif menerbangi Merpati selama 32 tahun, Fadjarudin bisa menerima penghasilan hingga sebesar Rp 43 juta per bulan. Dia sempat mengalami masa keemasan Merpati pada 1980-an.
