Ekonomi negaranya hancur, Raja Arab malah 'foya-foya' di Amerika

Datang ke Amerika, Raja Salman menyewa seluruh kamar Hotel Four Season.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Ekonomi negaranya hancur, Raja Arab malah 'foya-foya' di Amerika
Raja Arab, Salman. CNBC©2015

Ekonomi Arab Saudi dilanda masalah besar. Ini dipicu karena anjloknya harga minyak dunia yang berdampak pada menurunnya pendapatan negara.

Di waktu bersamaan, pengeluaran militer malah mengalami peningkatan. Kondisi ini telah memaksa pemerintah untuk menambah utang melalui pinjaman asing. Untuk menutupi defisit anggaran, Arab Saudi telah meminjam uang atau menambah utang sebesar USD 4 miliar melalui penerbitan obligasi pada tahun lalu.

Obligasi yang diterbitkan pemerintah Arab ini adalah yang pertama dalam 8 tahun terakhir, dan merupakan upaya untuk mempertahankan belanja publik karena harga minyak merosot dan pendapatan negara menurun.

Gubernur Badan Moneter Arab Saudi, Fahad al-Mubarak mengatakan, pemerintah akan menggunakan kombinasi obligasi dan cadangan devisa untuk mempertahankan pengeluaran dan menutupi defisit anggaran yang akan lebih besar dari yang diharapkan.

"Kami berharap ada peningkatan pinjaman untuk saat ini," katanya seperti dilansir dari CNBC di Jakarta.

Analis memperkirakan, defisit anggaran di Arab Saudi akan menyentuh angka USD 130 miliar sepanjang tahun ini.

Defisit anggaran terjadi karena besarnya pengeluaran negara guna pembayaran bonus pegawai negeri dan militer Saudi. Kas negara akan terus tergerus. Bahkan Arab diperkirakan telah menggerus cadangan devisa sebesar USD 62 miliar. Angka ini luar biasa tinggi karena biasanya negara ini mengalami surplus.

Capital Economics memperkirakan pendapatan pemerintah akan turun USD 82 miliar di tahun ini atau setara dengan 8 persen PDB. Bahkan IMF memprediksi defisit anggaran di Saudi akan terjadi hingga 2020 silam.

Untuk memenuhi kebutuhan belanja yang direncanakan, Arab Saudi membutuhkan harga minyak dunia USD 105 per barel. Sedangkan rata-rata harga minyak dunia saat ini hanya USD 58 per barel.

"Jika bisnis pemerintah terus seperti ini maka akan menguras cadangan lebih cepat dari yang diharapkan," ucap Direktur Ashmore Group Ltd untuk Timur Tengah, John Sfakianakis.

Analis pada awalnya meragukan pemerintah Arab Saudi akan menambah utang untuk menutupi defisit keuangan. Arab Saudi diperkirakan akan menghindari keadaan yang membahayakan kas negara yang terjadi 1990-an, di mana utang luar negeri sempat meningkat menjadi 100 persen dari PDB. Kini utang luar negeri Arab Saudi sudah turun menjadi 1,6 persen dari PDB.

Penurunan harga minyak dari rata-rata USD 107 per barel menjadi USD 44 per barel karena banyaknya pasokan global menyulitkan Arab. Pasalnya, 80 persen pendapatan pemerintah dihasilkan dari industri minyak. Namun demikian, Saudi menolak mengurangi produksi.

Saudi menolak untuk memangkas produksi karena mereka berharap produsen lain seperti perusahaan minyak di Amerika keluar dari bisnis OPEC di pasar global.

Menghadapi masalah ini, Saudi telah mengeluarkan kebijakan yaitu membuka pasar saham untuk asing. Namun, ribetnya syarat dan ketentuan membuat investor asing ogah masuk pasar.

"Kami akan hitung peningkatan pinjaman dalam beberapa bulan mendatang," ucap Gubernur Badan Moneter Arab saudi, Fahad al-Mubarak dilansir dari CNN di Jakarta, Jumat (7/8).

Banyak analis menyarankan agar Arab Saudi kembali mencari utang dengan mengeluarkan obligasi dengan nilai USD 5 miliar hingga akhir tahun ini. Banyak juga yang menyarankan agar Saudi mulai mencari investor asing.

Bahkan International Moneter Fund (IMF) sebelumnya telah memperingatkan Arab Saudi kalau penurunan tajam harga minyak dunia karena melimpahnya pasokan akan melemahkan pertumbuhan ekonomi.

Dilansir dari CNBC, pertumbuhan ekonomi Arab Saudi diprediksi hanya 2,8 persen pada 2015. Pertumbuhan juga akan terus menurun hingga 2,4 persen pada 2016 mendatang. Padahal, 2014 silam, pertumbuhan ekonomi Arab Saudi masih menyentuh angka 3,5 persen.

Penjualan minyak tahun ini diprediksi hanya akan memberi kontribusi sebesar 24,2 persen pada perekonomian Arab saudi. Angka ini turun drastis dari tahun lalu, di mana penjualan minyak berkontribusi 32,6 persen pada pertumbuhan.

"Risiko terhadap prospek pertumbuhan mengarah ke sisi negatif. Risiko utama rendahnya harga minyak dunia karena melemahnya permintaan global dan meningkatnya pasokan," kata IMF dalam laporannya seperti dilansir dari CNBC di Jakarta, Kamis (10/9).

Head of frontier markets strategy at Exotix Partners, Hasnain Malik berharap Arab Saudi bisa bertahan selama harga minyak tetap rendah, mengingat perekonomian Arab selama ini ketergantungan secara langsung maupun tidak langsung pada pendapatan minyak.

"Ada badai besar menyebabkan keprihatinan global maupun lokal," ucap Hasnain.

Arab Saudi adalah anggota dominan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) di mana 80 persen pendapatan ekspor negara didapat dari penjualan minyak dan gas. Hal ini sangat berisiko ketika harga minyak dunia anjlok dalam 12 bulan terakhir.

Hasnain Malik mengatakan, satu-satunya solusi Arab Saudi saat ini adalah mempercepat reformasi, termasuk pemotongan belanja pemerintah serta liberalisasi tenaga kerja dan pasar perumahan.

Meski keadaan ekonomi memburuk, Raja Arab saudi justru bermewah-mewahan ketika mendatangi Amerika Serikat.

Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Azis Al Saud mendarat di Amerika Serikat untuk bertemu Presiden Barack Obama. Kedatangannya beberapa waktu lalu ini sempat membuah heboh masyarakat dunia.

Mendarat di Amerika, Salman telah ditunggu puluhan mobil mewah di Joint Base Andrews yang terletak di luar Washington atau tepatnya di Prince George's Country, Md. Reporter Wall Street Journal sempat mengabadikan foto puluhan mobil mewah yang menunggu Sang Raja.

Raja negara kaya minyak ini bertemu Obama di Gedung Putih untuk membicarakan segala hal soal kesepakatan nuklir Iran dan pengaruhnya lebih luas di Timur Tengah. Pertemuan minggu lalu ini dilakukan sebelum Senat mengambil kesepakatan pada minggu ini.

Ini adalah kunjungan pertama Raja Saudi ke Amerika Serikat setelah Salman naik tahta pada Januari lalu, menggantikan Raja Abdullah. Kunjungannya kali ini juga sangat mewah karena dia menyewa seluruh kamar hotel Hotel Four Seasons.

Politico melaporkan, jaringan hotel mewah di Georgetown ini telah didekorasi ulang dan menggelar karpet merah untuk menjaga Salman dan keluarganya agar tidak menyentuh lantai. Hampir semua hotel diubah menjadi sentuhan emas dan terlihat elegan.

Seluruh hotel ini dikabarkan telah dipesan Salman dari Kamis hingga Sabtu lalu. Estimasi harga sewa kamar per malam di Four Season ini mencapai Rp 12 juta per malam untuk kamar biasa. Hotel ini setidaknya mempunyai 222 kamar.

Rekomendasi