Sejarah Gempa di Kolombia, Pernah Tewaskan Ribuan Jiwa

Sejumlah gempa besar pernah menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar di negara tersebut. Efek gempa di Kolombia itu memiliki sejarah panjang.

Muhamad Agil Aliansyah
Oleh Muhamad Agil Aliansyah - Reporter
Sejarah Gempa di Kolombia, Pernah Tewaskan Ribuan Jiwa
Warga dan petugas penyelamat mencari di antara reruntuhan bangunan yang runtuh setelah gempa bumi melanda Cali, Kolombia, Senin, 10 Agustus 2026. (AP Photo/Santiago Saldarriaga)

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 yang mengguncang wilayah barat Kolombia pada Senin 10 Agustus 2026, Waktu setempat memberikan gambaran mengenai ancaman gempa dari dalam lempeng atau intraslab earthquake. Ternyata, gempa ini bukan pertama menghantam Kolombia.

Sejumlah gempa besar pernah menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar di negara tersebut. Efek gempa di Kolombia itu memiliki sejarah panjang.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono menyebut gempa M 7,4 di Chocó bukan merupakan peristiwa pertama yang menunjukkan tingginya risiko seismik Kolombia.

"Sebagai kawasan seismik aktif dan kompleks, peristiwa gempa merusak di Kolombia tidak kali ini saja. Sejarah mencatat bahwa Kolombia sudah beberapa kali dilanda gempa merusak," kata Daryono dalam keterangannya, Selasa (11/8)

Dari catatannya, gempa tahun 1906 dengan magnitudo 8,8 yang terjadi di lepas pantai perbatasan Ekuador-Kolombia tercatat sebagai salah satu gempa terkuat di kawasan tersebut. Gempa itu memicu tsunami dan menewaskan hingga sekitar 1.500 orang.

Kemudian, gempa Cúcuta pada 1875 dengan magnitudo sekitar 7,9 mengguncang wilayah dekat perbatasan Venezuela dan menyebabkan sekitar 10.000 orang meninggal dunia.

Pada 1999, gempa Armenia berkekuatan M 6,2 mengguncang kawasan kopi atau Eje Cafetero. Peristiwa tersebut menewaskan lebih dari 1.000 orang.

Sementara itu, gempa Chocó M 7,4 pada 10 Agustus 2026 mengguncang wilayah barat Kolombia dan menyebabkan kerusakan bangunan serta korban jiwa. Berdasarkan data sementara, korban meninggal mencapai 132 orang.

Analisis Penyebab Gempa

Daryono menjelaskan, gempa tersebut bukan terjadi pada bidang kontak antarlempeng atau zona megathrust.

Daryono mengatakan gempa Kolombia M 7,4 tercatat berpusat di koordinat 4,844° Lintang Utara dan 76,242° Bujur Barat, sekitar 5 kilometer di sebelah selatan San José del Palmar, Kolombia. Gempa terjadi pada 10 Agustus 2026 pukul 19.34.28 WIB dengan hiposenter berada pada kedalaman sekitar 110,3 kilometer.

Menurut Daryono, gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas subduksi di kawasan Palung Peru-Chili. Lempeng Samudra Nazca diketahui menunjam secara aktif ke bawah Lempeng Benua Amerika Selatan.

Namun, pelepasan energi pada gempa kali ini tidak terjadi di bidang kontak antarlempeng. Gempa dipicu oleh deformasi dan patahan di bagian dalam lempeng samudra yang sedang menunjam.

"Sebagai gempa dalam-lempeng (intraslab earthquake), peristiwa ini memiliki perilaku perambatan gelombang seismik (ground motion) yang sangat khas," kata Daryono.

Mengapa Guncangannya Bisa Sangat Merusak?

Daryono menjelaskan, karakter gempa intraslab berbeda dengan gempa yang terjadi pada zona megathrust. Pada gempa intraslab, energi dilepaskan akibat rekahan di bagian dalam lempeng yang berada jauh di bawah permukaan.

Dalam kasus gempa Kolombia, bagian Lempeng Nazca yang menunjam mengalami tekanan mekanis akibat gaya tarikan gravitasi (slab pull) dan tekukan ekstrem ketika masuk ke lapisan mantel bumi.

Akumulasi regangan tersebut kemudian melampaui batas elastisitas batuan dan memicu patahan secara tiba-tiba. Mekanisme sumber gempa disebut memiliki karakter normal faulting dengan komponen geser atau oblique-normal faulting.

Menurut Daryono, kondisi lempeng yang kaku, padat, dan relatif dingin membuat gelombang seismik dapat merambat dengan efisien. Atenuasi gelombang yang rendah menyebabkan energi berfrekuensi tinggi mampu menjangkau wilayah yang luas.

"Efisiensi perambatan gelombang tersebut menyebabkan guncangan tanah yang dihasilkan di permukaan cenderung jauh lebih kuat dan destruktif dibandingkan gempa interplate dengan magnitudo setara," jelas Daryono.

Kedalaman hiposenter yang mencapai sekitar 110 kilometer juga membuat pancaran gelombang dapat menjangkau wilayah luas hingga ratusan kilometer dari episenter.

Meski demikian, karakteristik gempa dengan kedalaman tersebut tidak memicu ancaman tsunami seperti gempa dangkal yang terjadi akibat pergeseran dasar laut.

Bisa Memicu Keruntuhan Bangunan

Daryono menjelaskan, kuatnya gelombang geser (S-wave) dan gelombang permukaan dapat menghasilkan percepatan tanah yang tinggi di wilayah terdampak.

Guncangan tersebut memberikan gaya inersia besar terhadap bangunan, terutama struktur bertingkat dan bangunan pasangan batu yang tidak diperkuat dengan standar tahan gempa.

Pada bangunan yang memiliki kelemahan struktural, kondisi tersebut dapat memicu kegagalan soft story, ketika salah satu lantai memiliki kapasitas menahan beban lateral yang jauh lebih rendah dibandingkan lantai lainnya.

Kegagalan tersebut dapat berkembang menjadi keruntuhan progresif hingga keruntuhan total bangunan.

Kerusakan bangunan juga dapat memunculkan bahaya sekunder berupa material reruntuhan, debu tebal, hingga kebakaran akibat kerusakan jaringan energi setelah gempa.

Jadi Pelajaran Penting bagi Indonesia

Daryono menilai peristiwa gempa Kolombia memberikan pelajaran penting bagi Indonesia yang juga berada di kawasan dengan sistem subduksi aktif.

Menurutnya, ancaman gempa di Indonesia tidak hanya berasal dari zona megathrust maupun sesar aktif di permukaan. Gempa intraslab dengan kedalaman menengah juga perlu menjadi perhatian karena dapat menghasilkan guncangan berfrekuensi tinggi dengan jangkauan wilayah terdampak yang luas.

Karena itu, Indonesia perlu memperkuat penerapan standar bangunan tahan gempa, melakukan audit terhadap bangunan yang sudah berdiri, serta memperluas pemetaan risiko yang memasukkan sumber gempa dalam-lempeng.

Kesiapsiagaan masyarakat juga menjadi faktor penting, terutama untuk menghadapi dampak sekunder seperti reruntuhan bangunan, debu, kebakaran, dan kemungkinan gempa susulan.

"Rangkaian peristiwa gempa merusak di Kolombia memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia, yang memiliki karakteristik subduksi lempeng serupa," ujar Daryono.

Menurutnya, pemahaman terhadap berbagai jenis sumber gempa menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana, termasuk untuk mengurangi risiko korban akibat kegagalan struktur bangunan.

Rekomendasi