BI Rate Naik, Intip Strategi Investasi Tetap Cuan di Tengah Gejolak Pasar
Keputusan investasi sebaiknya tidak didasarkan hanya pada satu kali kenaikan BI Rate.
Pengamat Pasar Modal, Elandry Pratama menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 25 bps menjadi 5,50% dinilai belum menjadi alasan bagi investor untuk melakukan rotasi portofolio secara agresif.
"Dari sisi strategi investasi, rotasi portofolio belum tentu perlu dilakukan secara agresif hanya karena satu kali kenaikan BI Rate," kata Elandry kepada Liputan6.com, Kamis (11/6).
Dia menyarankan agar investor lebih selektif dalam memilih instrumen investasi dengan mengedepankan sektor yang memiliki fundamental kuat dan mampu bertahan di tengah kondisi suku bunga yang lebih tinggi.
"Investor sebaiknya lebih selektif dengan meningkatkan porsi pada sektor yang memiliki fundamental kuat, cash flow stabil, dan daya tahan terhadap suku bunga tinggi," ujarnya.
Selain itu, keputusan investasi sebaiknya tidak didasarkan hanya pada satu kali kenaikan BI Rate. Menurutnya, investor perlu melihat arah kebijakan moneter secara lebih luas serta prospek masing-masing sektor ke depan.
Saham Defensif dan Bank Besar Lebih Dilirik
Elandry menambahkan, kondisi kenaikan suku bunga umumnya membuat pelaku pasar lebih menyukai saham-saham defensif. Sektor-sektor yang kebutuhan produknya tetap tinggi dalam berbagai kondisi ekonomi biasanya menjadi pilihan utama investor.
"Dalam kondisi seperti ini biasanya market lebih menyukai saham-saham defensif dan perbankan besar dibanding sektor yang sangat bergantung pada pertumbuhan kredit dan pembiayaan," ujarnya.
Selain saham defensif, saham perbankan berkapitalisasi besar juga berpotensi menarik minat pasar karena memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengelola likuiditas serta menjaga profitabilitas saat suku bunga meningkat.
Cermati Arah Siklus Suku Bunga
Lebih lanjut, Elandry menilai faktor terpenting yang perlu dicermati investor saat ini adalah arah kebijakan suku bunga ke depan. Pasalnya, dampak terhadap pasar akan berbeda jika kenaikan BI Rate hanya bersifat sementara dibandingkan jika menjadi awal dari siklus suku bunga tinggi yang berlangsung lebih lama.
Apabila kenaikan suku bunga berlanjut dalam beberapa periode ke depan, investor kemungkinan perlu melakukan penyesuaian portofolio yang lebih signifikan. Namun, jika kebijakan tersebut hanya bersifat jangka pendek, maka perubahan strategi investasi dapat dilakukan secara lebih terbatas.
"Yang perlu diperhatikan ke depan adalah apakah kenaikan BI Rate ini bersifat sementara atau menjadi awal dari siklus suku bunga tinggi yang lebih panjang," pungkasnya.